28 Perwakilan OMS PBD Belajar Komunikasi, Perkuat Suara Konservasi dari Lapangan

28 Perwakilan OMS DIANTARA
Sebanyak 28 perwakilan OMS yang bergerak di bidang pesisir dan laut mengikuti penguatan kapasitas melalui videografi, fotografi, dan penulisan siaran pers yang diselenggarakan DIANTARA bekerja sama dengan Starling Resources di Pendopo Yayasan Satu Harapan, Sorong, 19 – 21 Agustus 2026 / Foto : Ist

Koreri.com, Sorong – Cerita tentang upaya menjaga pesisir dan laut Papua Barat Daya (PBD) seharusnya tidak hanya tersimpan di lapangan, tetapi juga sampai kepada publik.

Kemampuan mengubah pengalaman dan kerja lapangan menjadi cerita visual dan tulisan yang kuat menjadi kebutuhan penting bagi organisasi masyarakat sipil (OMS) untuk memperkuat advokasi, memperluas dukungan publik dan menunjukkan dampak nyata upaya konservasi.

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penguatan kapasitas komunikasi OMS di PBD.

Sebanyak 28 perwakilan OMS yang bergerak di bidang pesisir dan laut mengikuti penguatan kapasitas melalui videografi, fotografi, dan penulisan siaran pers yang diselenggarakan Dinamika Alam Nusantara (DIANTARA) bekerja sama dengan Starling Resources di Pendopo Yayasan Satu Harapan, Sorong, 19 – 21 Agustus 2026.

Bagi organisasi yang bekerja langsung bersama masyarakat di lapangan, dokumentasi bukan sekadar arsip. Foto, video, dan tulisan dapat menjadi cara untuk memperlihatkan proses, menyampaikan pembelajaran, mengangkat suara masyarakat, serta menunjukkan perubahan dari berbagai upaya pengelolaan pesisir dan laut.

Namun, tantangannya bukan lagi pada ketersediaan saluran komunikasi. Sebagian besar OMS telah memanfaatkan media sosial, website, video, maupun media massa. Tantangan kini terletak pada kemampuan menghasilkan konten yang memiliki nilai cerita, menarik secara visual, dan memenuhi standar publikasi.

Dalam dokumentasi visual, tantangan yang kerap ditemukan antara lain objek utama yang tidak jelas, komposisi dan framing yang kurang tepat, minimnya variasi footage, hingga kurangnya kemampuan menangkap momen penting. Hal serupa terjadi dalam penyusunan siaran pers, terutama dalam mengolah fakta dan informasi lapangan menjadi narasi yang ringkas, relevan, dan menarik.

Menurut Rens Lawarrissa, Direktur DIANTARA, penguatan kemampuan komunikasi penting untuk memastikan kerja-kerja konservasi OMS dapat diketahui lebih luas.

“Kerja-kerja di lapangan sebenarnya memiliki banyak cerita penting. Sayangnya, cerita tersebut belum terkelola untuk dapat disampaikan lebih luas sebagai pembelajaran maupun alat advokasi. Karena itu, kami ingin peserta tidak hanya belajar mengambil foto atau video, tetapi juga memahami bagaimana membangun cerita dari apa yang mereka temukan di lapangan.”

Hal tersebut sejalan dengan pandangan Junita Manuputty, konsultan dari Starling Resources, yang melihat komunikasi sebagai bagian penting dalam memperbesar dampak OMS.

“kemampuan mendokumentasikan, mengolah, dan menyampaikan pengalaman dari lapangan secara sederhana dan menarik dapat membantu organisasi memperluas jangkauan pesan, memperkuat advokasi, serta membangun dukungan yang lebih luas terhadap isu-isu pesisir dan laut. Penguatan kapasitas komunikasi juga penting agar pengetahuan dan praktik baik yang telah dilakukan OMS tidak berhenti sebagai dokumentasi internal, tetapi dapat menjadi pembelajaran yang bermanfaat bagi masyarakat, mitra, dan publik.”

Hasan Makassar, Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Kepulauan Raja Ampat, yang mengutus perwakilan BLUD sebagai peserta, mengatakan kapasitas dokumentasi saat ini merupakan ketrampilan penting dalam pengelolaan Kawasan konservasi.

“Bagi kami, pendokumentasian informasi dan cerita merupakan bagian penting dari pengelolaan Kawasan konservasi. Pengolahan informasi yang berbentuk foto, video dan cerita ini buat kami merupakan salah satu rekaman untuk evaluasi bahkan menjadi alat untuk edukasi bagi masyarakat, mitra bahkan public luas,” tutup Hassan

Sementara itu, Hofni Wabia, Koordinator Program Yayasan Bumi Papua Lestrai (YBPL), melihat kegiatan ini memberikan perspektif baru mengenai fungsi dokumentasi bagi organisasi.

“Dari sini kami belajar bahwa dokumentasi juga dapat menjadi media untuk menyampaikan visi organisasi, memperluas jangkauan pesan, dan menunjukkan dampak dari kerja yang kami lakukan,”pungkas Hofni.

Selama kegiatan, peserta belajar dan praktik mengenai fotografi dan videografi, termasuk komposisi, framing, camera movement, audio, visual storytelling, penyusunan sequence, hingga editing dasar menggunakan perangkat mobile. Peserta juga belajar mengolah informasi lapangan menjadi siaran pers berdasarkan fakta dan data untuk kebutuhan publikasi.

Dengan kemampuan komunikasi yang lebih baik, OMS dapat memperkuat suara masyarakat, memperluas pembelajaran dari lapangan, dan membangun dukungan yang lebih luas bagi upaya menjaga pesisir dan laut Papua Barat Daya.

Tentang DIANTARA

Dinamika Alam Nusantara (DIANTARA) adalah organisasi yang berfokus pada pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Papua Barat Daya. DIANTARA bekerja untuk memperkuat pengetahuan, kesadaran, dan perilaku peduli lingkungan melalui pengembangan modul pembelajaran, bahan ajar, media edukasi, pelatihan fasilitator, serta pendampingan program pendidikan lingkungan di sekolah dan masyarakat.

Tim DIANTARA memiliki pengalaman dalam pelaksanaan program PLH di Sorong, Tambrauw, Raja Ampat, Fakfak, dan Kaimana dengan pendekatan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan konteks ekologis Papua.

Ke depan, DIANTARA dikembangkan sebagai organisasi rujukan dan pusat pengembangan PLH di Papua yang berkomitmen menciptakan edukator dan fasilitator lingkungan yang kompeten serta mendukung lahirnya generasi penjaga alam Papua.

RLS