Koreri.com, Timika – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Mimika memperkuat layanan terpadu pendidikan anak usia dini (PAUD) di wilayah pesisir melalui kunjungan dan pelayanan langsung di PAUD Negeri Ipaya, Distrik Amar, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan yang dipimpin Ketua TP-PKK sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Mimika, Ny. Suzy Rettob, bersama Wakil Ketua Ny. Periana Kemong tersebut menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung kondisi pendidikan anak sekaligus memetakan kebutuhan layanan PAUD di wilayah pesisir.
Melalui Pokja II yang membidangi pendidikan, keterampilan dan pengembangan kehidupan berkoperasi, TP-PKK Mimika melakukan pendataan anak usia sekolah serta memberikan Alat Permainan Edukatif (APE) dan paket kebersihan diri kepada anak-anak.
Pelayanan tersebut tidak hanya menyasar anak-anak di Kampung Ipaya, tetapi juga menjangkau anak-anak dari Kampung Paripi dan Yaraya. Rombongan TP-PKK menempuh perjalanan laut untuk memastikan layanan pendidikan dan pembinaan anak dapat menyentuh masyarakat di wilayah yang memiliki keterbatasan akses.
Ketua Bidang Pokja II TP-PKK Mimika, Leentje A. Siwabessy, bersama jajaran pengurus juga berinteraksi langsung dengan anak-anak melalui kegiatan belajar sambil bermain, bernyanyi dan berhitung.
Suasana dibuat menyenangkan agar anak-anak lebih antusias mengikuti kegiatan. Dalam kesempatan tersebut, anak-anak juga dikenalkan dengan sosok pimpinan daerah, termasuk Bupati Yohanes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel K. Kemong.
Kepala PAUD Negeri Ipaya, Oktovianus Latuhihamalo, mengatakan perhatian TP-PKK Mimika menjadi dukungan penting bagi keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut.
Menurut dia, sekolah saat ini memiliki 45 anak yang tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan berasal dari tiga kampung. Namun, kehadiran siswa dalam kegiatan belajar mengajar masih menghadapi kendala.
“Walaupun ada 45 anak yang tercatat di Dapodik, kehadiran mereka setiap hari belum stabil. Kadang hanya 10 sampai 20 anak yang hadir,” kata Oktovianus.
Kondisi tersebut, lanjut dia, dipengaruhi jarak antar-kampung serta faktor cuaca. Hujan deras dan kondisi perjalanan membuat sebagian anak kesulitan datang ke sekolah.
Karena itu, ia mengusulkan adanya pola layanan pendidikan yang lebih dekat dengan tempat tinggal anak. Salah satunya melalui pembentukan kelas di masing-masing kampung dengan sistem penugasan guru secara bergiliran.
“Kalau ada kelas di masing-masing kampung dan guru bisa ditugaskan secara bergiliran, anak-anak akan lebih mudah mendapatkan layanan pendidikan,” ujarnya.
Kunjungan TP-PKK Mimika tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan pendidikan yang lebih merata, terutama bagi anak-anak di wilayah pesisir dan kampung-kampung yang memiliki keterbatasan akses.
Melalui layanan terpadu tersebut, TP-PKK Mimika mendorong agar kebutuhan pendidikan anak tidak hanya dilihat dari sisi pembelajaran, tetapi juga mencakup pendataan, kesehatan, kebersihan diri, lingkungan belajar dan keterlibatan keluarga.
Langkah itu diharapkan dapat menjadi bahan koordinasi TP-PKK bersama Dinas Pendidikan dan perangkat daerah terkait untuk meningkatkan kualitas serta jangkauan layanan PAUD di wilayah pesisir Mimika.
TIM












