Koreri.com, Jayapura – Perjalanan panjang pendidikan tinggi Katolik di Tanah Papua memasuki babak baru.
Setelah 59 tahun berkarya melalui Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur, kini hadir Universitas Katolik Fajar Timur Papua (UNIKA Fajar Timur Papua) sebagai kelanjutan sejarah sekaligus perluasan pelayanan pendidikan tinggi bagi masyarakat Papua.
Momentum bersejarah ini ditandai dengan perayaan syukur Dies Natalis ke-59 STFT Fajar Timur sekaligus delapan bulan perjalanan UNIKA Fajar Timur Papua di Jayapura, Sabtu (10/10/2026).
Perayaan tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi juga penegasan komitmen untuk meneruskan warisan pendidikan, iman, ilmu pengetahuan, dan pelayanan bagi Gereja serta masyarakat di Tanah Papua.
Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Teologi Katolik (STTK) Papua, Dr. drg. Aloisius Giyai, M.Kes., menegaskan bahwa transformasi STFT Fajar Timur menjadi universitas bukan berarti memutus sejarah yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Menurutnya, UNIKA Fajar Timur Papua berdiri di atas fondasi perjuangan panjang Gereja Katolik dalam mengembangkan pendidikan tinggi di Tanah Papua.
Karena itu, perubahan status kelembagaan harus dipahami sebagai kelanjutan sekaligus perluasan karya pendidikan yang telah dirintis para pendahulu.
“Transformasi menjadi universitas bukanlah pemutusan sejarah STFT, melainkan kelanjutan dan perluasan karya pendidikan yang telah dirintis oleh Gereja di Tanah Papua. Kita tidak memulai dari nol, tetapi melanjutkan warisan iman, ilmu pengetahuan, tradisi intelektual, dan pengabdian yang telah dibangun selama puluhan tahun,” tegas Aloisius dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, perjalanan lembaga tersebut berawal dari perintisan pendidikan calon imam pada Agustus 1964.
Selanjutnya, Akademi Teologi Katolik didirikan pada 10 Oktober 1967, sebelum perkuliahan dimulai pada 15 Februari 1969 dengan 12 mahasiswa dan tiga dosen.
Melalui perjalanan panjang dan berbagai tahapan pengembangan kelembagaan, lembaga pendidikan tersebut kemudian berkembang menjadi STFT Fajar Timur hingga bertransformasi menjadi UNIKA Fajar Timur Papua.
Aloisius menilai, status universitas menghadirkan peluang sekaligus tanggung jawab yang lebih besar.
Kehadiran UNIKA Fajar Timur Papua harus mampu memperluas akses pendidikan tinggi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memberikan kesempatan lebih luas kepada putra-putri Papua untuk mengembangkan kompetensi dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan profesi.
Menurutnya, pendidikan tinggi Katolik di Papua tidak hanya perlu mempertahankan tradisi akademik dan spiritual, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.
Karena itu, pengembangan universitas perlu diarahkan pada penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, penguatan sumber daya manusia, dan perluasan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat Papua.
Bangun Persaudaraan dan Nilai Fajarian
Sementara itu, Rektor UNIKA Fajar Timur Papua, Pastor Dr. Konstantinus Bahang, OFM, mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan perayaan Dies Natalis sebagai momentum untuk memperkuat persaudaraan, kebersamaan, dan identitas komunitas akademik.
Menurutnya, universitas tidak semata-mata dibangun melalui gedung, fasilitas, dan kelengkapan administratif. Lebih dari itu, universitas merupakan komunitas manusia yang menghidupi kegiatan akademik, membangun suasana kampus, dan mengembangkan nilai-nilai bersama.
“Universitas adalah orang-orang, universitas adalah kegiatan, universitas adalah suasana, dan universitas adalah sebuah persekutuan hidup,” tegas Konstantinus.
Ia menjelaskan bahwa tema perayaan, yakni “Membangun Komunitas Unika Fajar Timur Papua dalam Ikatan Persaudaraan dan Nilai-Nilai Fajarian”, memiliki makna penting bagi perjalanan universitas yang masih berada pada tahap awal pengembangan.
Menurutnya, pengalaman STFT selama 59 tahun harus menjadi modal berharga dalam membangun universitas.
Tradisi intelektual, etos kerja, semangat pelayanan, dan nilai-nilai Fajarian perlu terus dipertahankan sekaligus dikembangkan sesuai dengan tuntutan pendidikan tinggi masa kini.
Dengan demikian, UNIKA Fajar Timur Papua diharapkan tidak hanya tumbuh sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi rumah bersama yang membangun persaudaraan, memperkuat kehidupan spiritual, serta melahirkan generasi yang memiliki integritas dan semangat pengabdian.
Konstantinus juga mengungkapkan rasa syukur atas sambutan awal masyarakat terhadap kehadiran universitas.
Hal tersebut terlihat dari penerimaan mahasiswa pada tahap awal yang mencapai hampir 100 mahasiswa.
Jumlah tersebut menjadi modal optimisme untuk melanjutkan pengembangan program studi, memperkuat penyelenggaraan pendidikan, dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap kehadiran UNIKA Fajar Timur Papua.
Wujudkan Kerinduan Panjang Umat Katolik
Pada kesempatan yang sama, Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You, menyampaikan bahwa kehadiran UNIKA Fajar Timur Papua merupakan buah dari kerinduan panjang umat Katolik di Tanah Papua untuk memiliki universitas Katolik.
Ia menegaskan, kehadiran universitas tersebut bukan semata-mata keinginan pribadi Uskup Jayapura, Uskup Timika, atau segelintir orang. Sebaliknya, universitas ini merupakan bagian dari aspirasi umat yang telah lama mengharapkan hadirnya lembaga pendidikan tinggi Katolik di Papua.
Menurut Yanuarius, kerinduan tersebut telah berkembang melalui berbagai pertemuan Gereja dan kembali mengemuka dalam Sinode Keuskupan Jayapura tahun 2026.
Kehadiran universitas Katolik menjadi salah satu bagian dari harapan umat dalam mengembangkan pelayanan Gereja sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Tanah Papua.
Meski demikian, ia mengakui bahwa mendirikan dan mengembangkan universitas bukan pekerjaan mudah. Ketersediaan tenaga dosen, gedung, sarana dan prasarana, program akademik, serta dukungan pembiayaan merupakan sejumlah tantangan yang perlu diatasi bersama.
Namun, berbagai keterbatasan tersebut tidak boleh memadamkan semangat dan kerinduan umat untuk membangun universitas Katolik di Tanah Papua.
Menurutnya, diperlukan keberanian untuk memulai dengan sumber daya yang tersedia, sembari terus membangun kerja sama, memperkuat dukungan, dan mengembangkan kapasitas kelembagaan secara berkelanjutan.
Pengembangan universitas, dengan demikian, membutuhkan komitmen bersama antara Gereja, yayasan, pengelola universitas, sivitas akademika, alumni, pemerintah, dan berbagai mitra yang memiliki kepedulian terhadap masa depan pendidikan di Papua.
Menjaga Sejarah, Menyiapkan Masa Depan Papua
Perayaan Dies Natalis ke-59 STFT Fajar Timur sekaligus delapan bulan UNIKA Fajar Timur Papua mengusung tema “Membangun Komunitas Unika Fajar Timur Papua dalam Ikatan Persaudaraan dan Nilai-Nilai Fajarian”.
Kegiatan tersebut dihadiri para uskup, imam, suster biarawati, frater dari lima keuskupan di Tanah Papua yang sedang menempuh pendidikan di STFT Fajar Timur, jajaran yayasan dan rektorat, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, mitra, serta undangan lainnya.
Perayaan ini menjadi penanda penting kesinambungan pendidikan tinggi Katolik di Tanah Papua. Usia 59 tahun STFT Fajar Timur merepresentasikan perjalanan sejarah dan pengabdian, sedangkan kehadiran UNIKA Fajar Timur Papua membuka peluang untuk memperluas cakupan pendidikan dan pengembangan keilmuan.
Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa transformasi kelembagaan tersebut diikuti dengan penguatan tata kelola, peningkatan mutu akademik, ketersediaan sumber daya manusia, pengembangan program studi, dan perluasan akses pendidikan bagi masyarakat.
Dengan berpegang pada nilai-nilai Katolik dan semangat Fajarian, UNIKA Fajar Timur Papua diharapkan tumbuh menjadi lembaga pendidikan tinggi yang mampu menjaga warisan sejarah, menjawab kebutuhan zaman, serta melahirkan generasi Papua yang beriman, berintegritas, berpengetahuan, dan siap mengabdi bagi Gereja, masyarakat, dan bangsa.
RLS












