Koreri.com – Militer Amerika Serikat (AS) saat ini masih dihadapkan dengan serangan siber yang semakin meningkat dan serangan-serangan tersebut memamerkan keahlian tinggi untuk dapat diantisipasi oleh negara terutama yang dilakukan oleh pihak asing.
Jenderal Paul Nakasone yang merupakan seorang pimpinan Tentara Siber AS, bersaksi dihadapan Komite Siber Nasional Bagian Intelijen, melaporkan adanya ancaman yang terus meningkat dan kapabilitasnya dalam sebuah sesi dengar pedapat.
Sesi dengar pendapat itu dilakukan sehari setelah Wall Street Journal mengumumkan sebuah pantauan internal yang dilakukan oleh Angkatan Laut yang menunjukkan bahwa layanan-layanan dan mitra industri strategis berada dalam kepungan serangan siber dengan banyaknya rahasia keamanan nasional berhasil dicuri dalam beberapa tahun terakhir.
“Ruang siber adalah lingkungan yang menjadi rebutan dimana kita berhadapan dengan musuh setiap saat. Negara menghadapi banyak ancaman dari berbagai pemain jahat siber, termasuk penjahat non-pemerintah, organisasi kriminal, negara musuh, dan proksi mereka. Kita melihat dengan jelas pesaing kita melakukan kampanye non-perang secara berkelanjutan untuk mengikis kekuatan Amerika dan mendapatkan keuntungan strategis,” jelas Nakasone dalam sesi itu.
Untuk proposal tahun 2020, Departemen Pertahanan mengajukan dana sebesar 9.6 miliar dolar AS untuk keamanan siber dan operasi-operasi siber termasuk untuk peningkatan kapasitas tentara siber AS.
ARD
Sumber: wtkr.com































