Koreri.com, Jayapura – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua melalui Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi, UMKM dan Tenaga Kerja setempat menyerahkan bantuan 1 set mesin produksi sagu serta bangunan rumah produksi kepada kelompok usaha Nenem Tap di kampung Gemebs (Genyem Besar) Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapra, Senin (7/12/2020).
Penyerahan dilakukan secara simbolis dari Kabid Perindustrian Disperindagkop, UMKM dan Naker, Yoniman Ronting kepada Kadistrik Nimboran Marsuki Ambo dan selanjutnya diserahkan ke perwakilan kelompok usaha sagu.
Kepala Disperindagkop, UMKM dan Naker Papua Ir. Omah Laduany Ladamay, mengatakan bantuan rumah produk sagu lengkap dengan mesin produksi dianggarkan dalam APBD Perubahan tahun 2020.
“Ini kami kerjakan dengan APBD Perubahan 2020 dan mulai kerja dari bulan oktober, memang waktu cukup singkat tapi kita bisa selesaikan sampai batas tahun anggaran 2020,” jelasnya melalui Kabid Perindustrian Yoniman Ronting kepada wartawan saat penyerahan bantuan mesin produksi sagu di kampung Gemebs, Senin (7/12/2020) siang.
Dikatakan, total anggaran dari APBD Perubahan untuk bangunan kurang lebih Rp400 juta di pagu anggaran kemudian 1 set mesin produksi sagu senilai Rp 400-an juta sehingga total Rp. 800-an juta. Total anggran itu sudah mengcover bangunan hingga alat produksi termasuk alat kemasan.
“Itu lengkap semua, kita akan rancang nanti ada kemasan per kilo dan karung karena tergantung permintaan. Misalnya Saga dan Hypermart itu biasanya minta per kilogram. Jadi, itu tergantung permintaan pasar dan kita sesuaikan,” sambungnya.
Dijelaskan, karena pengolahan sagu ini dapat meningkatkan pendapatan perekonomian masyarakat ekonomi rendah sehingga di tahun 2021 ada usulan bantun untuk beberapa kabupaten lagi termasuk Mimika.
“Dinas kita lagi membina UKM yang banyak, jadi kita mau setiap UKM itu ada jangan monopoli dari A-Z nanti UKM dapat memproduksi gula sagu dan lainnya seperti di Puway itu sudah ada gula sagu. Jadi bisa produksi gula dari sagu juga,” ujarnya.
Dirincikan Ronting, bantuan tersebut berupa bangunan rumah produksi, gudang, rumah sungkuk dan peralatan lengkap 1 set yang mengolah batang sagu menjadi tepung dalam bentuk kemasan.
“Hari ini kita langsung bimtek karena alat yang ada ini nanti kita serahkan ke masyarakat melalui Pemerintah Kabupaten Jayapura, Distrik Nimboran, Kampung Gemebs. Jadi, nanti semua kelompok masyarakat menggunakan alat ini sampai mereka menghasilkan satu produk tepung sagu,” tandasnya.
Dikatakan, bantuan mesin produksi sagu ini bisa jadi contoh di kampung lain.
“Harapan kita memang model yang kita buat ini supaya jadi contoh di kampung lain, kita berharap dari tepung sagu nanti ada UKM lain bisa mengolah segala macam kue sagu,” harap Ronting.
“Jadi ketika kita dapat pasar, kita pun harus siap produksi karena mesin produksi sagu ini ketika bekerja dalam 1 hari minimal 5 – 6 batang pohon sagu menghasilkan 100 karung sagu dan satu karung seberat 24 30 kg, kita juga sudah bisa hitung kalau dalam seminggu atau sebulan permintaan sekian kontener maka rumah produksi sagu siap,” jelasnya.
Dijelaskan, pengolahan rumah produksi sagu di kampung Gemebs melibatkan seluruh masyarakat Orang Asli Papua di kampung gemebs yang punya hutan sagu.
“Kita buat ini supaya masyarakat jangan menonton, jangan cuma mereka jual batang sagu, orang lain yang olah. Ini kita serahkan seluruhnya masyarakat yang olah sendiri. Kita akan memfasilitasi penjualan di pasar sehingga hasil produksi bisa dijual keluar Papua dengan jumlah yang besar,” katanya.
Untuk pengawasan tetap dari Provinsi karena UKM belum bisa dilepas sendiri dan tidak lepas dari hal pemasaran.
“Sehingga masyarakat jangan terlalu pusing pikir pasar yang selalu menjadi kendala bagi masyarakat,” kata Yoniman.
Kepala Distrik Nimboran, Marsuki Ambo, mengapresiasi dan menyampaikan terima kepada Dinas teknis yang sudah turun memberikan bantuan fasilitas dan bimtek kepada masyarakat untuk mengolah sagu menjadi tepung sagu.
Menurutnya, penyerahan bantuan ini sesuai dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk masyarakat diberdayakan dalam meningkatkan perekonomian.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi karena Dinas Perindagkop,UMKM dan Tenaga Kerja Provinsi Papua sudah menterjemahkan kebijakan Bupati Jayapura yang harus kita lakukan bersama di tingkat kampung,” kata Marsuki.
“Kami pemerintah Distrik tetap mendorong kebijakan ini karena bantuan dari Dinas teknis tidak semua kampung mendapat bantuan seperti ini,” sambungnya.
Sementara itu, peneliti, ahli gizi dan dosen Uncen, I Made Budi M.S mengatakan, riset mesin produksi sagu yang disiapkan bagi masyarakat cukup panjang hampir 7 tahun.
“Cukup panjang, tidak langsung generasi ke enam ini muncul karena setiap tahun dievaluasi. Jadi mesin produk sagu di kampung gemebs yang terbaik, teknologi simpel tapi hasilnya maksimal dan harapan kita sumber daya alam Papu harus bermanfaat. Tingkat produktifitas bagus, kwalitas bagus, kwantitas bagus semua basisnya teknologi,” kata pria yang akrab disapa Pak Made ini.
Menurutnya, di jaman milineal ini teknologi harus masuk ke kampung tapi bukan menghilangkan tradisional. “Sagu di Papua mengolah secara kultur jadi ada semangat kebersamaan tapi karena semangat permintaan pasar sagu meningkat sehingga kalau tradisional pasti terlambat untuk mencapai kwantitasnya,” ujarnya.
“Jadi kita masukan teknologi ini hampir semua teknologi yang dibuat ini cocok dengan wilayah sagu dari Papua,” kata Pak Made.
Harapan kedepan kajian sosial sagu cukup banyak tapi hampir tidak ada orang berbicara ke teknologi dan saya pencipta teknologinya di Papua kebetulan semangat ada walaupun risetnya mandiri akhirnya sekarang banyak dipakai di Papua.
“Kita berharap hilirnya itu harus kekuatan ketahanan ekonomi harus kuat, apalagi sekarang pandemi Covid -19 begini kalau masyarakat asupan gizi kurang bagus pasti imun tubuh turun sehingga diserang corona,” jelasnya.
“Jadi, kalau penjualan bagus, pendapatan bagus, asupan gizi bagus maka imun juga bagus. Kuncinya cuma satu yaitu semua OPD di Provinsi Papua harus kerja keras dengan masyarakat sejahtera, sehat dan ekonomi kuat,” tambahnya.
Anggota kelompok usaha sagu Nenem Tap, Naftali Warisyu, mengatakan selama ini masyarakat mengolah sagu secara manual dan mengalami kendala ketika bawa hasil sagu jual ke pasar hamadi tidak ada mobil operasional dan tidak penampungan sehingga sagu yang tidak lagu bawa pulang sementara biaya transportasi sampai pasar hamadi itu Rp. 700 ribu.
“Jadi kita jual harga 1 karung sagu itu Rp. 300 ribu tapi sampai di pasar harga turun sampai Rp. 150 ribu, harga di pasar tidak sehat,” kata Naftali.
“Kita olah sagu pakai mesin biasa dan kita bawa ke tempat pengolahan harus pakai mobil untuk angkut bahan baku itu kita bayar dan orang kerja juga kita bayar tambah lagi biaya makan – minum itu yang menjadi kendala selama ini,” ujarnya.
Dikatakan, anggota kelompok usaha sagu Nenem Tap (Bersatu untuk Sukses) berjumlah 20 orang yang seluruh masyarakat kampung Genyem Besar (Gemebs) dan sudah berumah tangga.
“Dengan adanya bantuan ini saya berterima kasih atas bantuan mesin sagu karena hasilnya lebih banyak dari produksi manual,” pungkasnya.
SEO
























