Kepala BPTP Kunjungi Distan Maluku Bahas Integrated Farming System

Kepala BPTP Mal Distan Mal

Koreri.com, Ambon – Kementerian Pertanian (Kementan) tengah fokus menyiapkan langkah strategis dalam upaya peningkatan ketersediaan pangan di era new normal seperti meningkatkan kapasitas produksi dan upaya lainnya.

Hal tersebut sekaligus mengantisipasi krisis pangan sebagaimana yang diperingatkan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) akibat dampak pandemi Covid 19.

Tidak hanya sampai di sana, kini dalam mendukung upaya lumbung pangan Kementan juga mulai menggarap metode pertanian pola integrated farming dengan menerapkan zero waste yang belakangan ini banyak ditekuni petani untuk memenuhi berbagai kebutuhan pangan secara holistik dalam satu lahan.

Pola integrated farming ini merupakan pengelolaan pertanian terpadu dalam satu hamparan dibudidayakan banyak komoditas yakni padi, sayur, ayam, lele, sapi, dan komoditas pangan lainnya.

Dalam mewujudkan kemandirian pangan Kementan juga sangat mendukung petani dalam melakukan metode pertanian integrated farming system.

Kaitannya dengan itu, Rabu (27/10/2021), Kepala BPTP Maluku Dr. Ir. Procula, R. Matitaputty, S.Pt. M.Si berkunjung ke Dinas Pertanian setempat dalam rangka silahturahmi sekaligus melakukan koordinasi Integrated Farming System.

Kepala Distan Maluku Ir. Djasmin Badjak menyambut baik kehadiran Kepala Balai beserta staf.

Turut hadir dalam pertemuan di maksud Kabid Penyuluhan, Kabid Hortikultura dan Kabid Peternakan dan kabid Perkebunan Provinsi Maluku.

Jasmin sangat mengharapkan adanya kerjasama yang baik dan untuk pengembangan benih unggul.

“Harus ada  rekomendasi dari BPTP Maluku untuk dapat dikembangkan di kabupaten/kota di Provinsi Maluku,” harapnya.

Jasmin juga menekankan, strategis pembangunan pertanian berpusat di BPTP Maluku.

Ia bahkan mengharapkan adanya kegiatan Bimtek untuk menambah pengetahuan petani tentang inovasi teknologi pertanian.

Dr. Procula Matitaputty memberikan dukungan kepada Distan Maluku karena merasa terpanggil untuk bersama-sama membangun pertanian di daerah ini dengan adanya komunikasi, koordinasi dan silahturahmi yang baik.

Ia menambahkan Kementan sangat serius mendorong pengembangan pola integrated farming ini melalui pemberian bantuan KUR, bantuan bibit dan sarana produksi lainya.

Di Provinsi Maluku ada 11 Kabupaten/Kota yang harus menyiapkan lahan masing-masing 20 ha/kabupaten sementara untuk tingkat Provinsi disiapkan 50 ha.

“Pola ini menjadi model untuk dikembangkan di berbagai daerah sehingga ketahanan pangan nasional harus didukung semua daerah dan terjadi peningkatan kesejahteraan petani secara holistik di seluruh wilayah Indonesia,” tandasnya.

Dengan adanya ketersediaan konsumsi pangan berkualitas, juga menambah nilai tambah, pengembangan inovasi dan manajemen.

“Pola integrated farming merupakan salah satu bentuk aksi nyata pengembangan pertanian yang maju, mandiri dan modern sehingga ketahanan pangan makin kokoh di Provinsi Maluku,” pungkasnya.

JFL