Ratusan Warga Jemaat Hadiri Perayaan Pantekosta I dan II GKI Pniel Opiaref

IMG 20220607 WA0032

Koreri.com, Biak – Ratusan warga jemaat menghadiri ibadah perayaan Pentakosta I dan II (Pencurahan Roh Kudus) yang digelar di halaman gedung gereja lama GKI Pniel Opiaref Klasis Biak Timur, Senin (6/6/2022).

Ibadah ini mengangkat tema “Roh Kudus Berkuasa Melakukan Perubahan Dalam Hidup Manusia”.
Dan sub tema “Roh Kudus Menguasai Gereja Memberitakan Injil Kerajaan Allah Dalam Rangka Pembaharuan dan Perubahan Hidup Manusia Demi Keadilan, Perdamaian dan Cinta Kasih Dalam Kehidupan Bersama”.
Ibadah syukuran dipimpin oleh Pdt. Kostan Msen, S.Si Teol dengan pembacaan Firman Tuhan yang terambil dari Kitab Efesus 1:15.

Pdt. Kostan mewakili Majelis Jemaat GKI Pniel mengatakan ibadah syukur tentang pencurahan Roh Kudus yang hari ini berlangsung merupakan sebuah momen yang luar biasa.

“Selama ini kita ibadah di dalam gedung gereja dan dalam kehidupan manusia, kehidupan berjemaat. Kehadiran Roh Kudus dirasakan seluruh umat Kristen yang ada di seluruh dunia tetapi juga kami yang ada di jemaat Pniel Opiaref merasa bersukacita karena di momen seperti ini Roh Kudus benar-benar bekerja dan membaharui kehidupan dengan suasana yang terbuka seperti ini,” ungkapnya.

Dikatakan Pdt Kostan, dirinya sangat mengapresiasi dan menyampaikan banyak terima kasih kepada panitia hari besar gereja tingkat Jemaat Pniel Opiaref atas dukungan dan kerja kerasnya sehingga perayaan ibadah ini dapat berjalan dengan baik dan sukacita ini dirasakan dan dinikmati bersama.

“Juga penyajian makanan yang seadanya tanpa melihat kemewahan yang luar biasa tetapi makna kebersamaan dan di mana kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan kita memberikan suatu kebersamaan dan persekutuan yang erat sekali dan ini akan merasakan di saat hari ini dalam momen perayaan Pantekosta,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Hari-hari Besar Gerejawi GKI Pniel Opiaref Margaretha Singgamui ketika ditemui media ini menjelaskan, ibadah pencurahan Roh Kudus tahun ini yang bertempat di Jemaat Pniel Opiaref dibuat dalam nuansa kontekstual Biak.

Hal ini tentunya sesuai petunjuk dari Sinode bahwa ornamen yang menghiasi di latar panggung ada obor dan perahu.

“Obor itu mmenggambarkan Api Roh Kudus yang terus menyala sedangkan perahu itu melambangkan jalannya pekabaran Injil di seluruh dunia dan khususnya di tanah Papua. Walaupun gelombang, perahu itu tetap jalan untuk memberitakan Injil,” tandasnya.

Kenapa menggunakan konteks bahasa Biak? Hal ini berdasarkan cerita Pentakosta mula-mula bahwa ketika pencurahan Roh Kudus itu terjadi para rasul-rasul berbicara dengan berbagai bahasa.

“Oleh karenanya kontekstual bahasa Biak mulai kami angkat,” sambungnya.

Khususnya di Biak, diakui Margaretha, sangat kurang sekali penutur bahasa Biak bahkan hampir hilang. Anak-anak sekarang pun lebih suka berbicara bahasa Indonesia daripada bahasa Biak.

Bahkan bukan hanya anak-anak, orang tua di rumah pun lebih banyak berbahasa Indonesia daripada bahasa Biak. Kondisi seperti ini lama-lama akan membuat penutur bahasa Biak itu hilang.

“Untuk itu kami coba dengan membuat ibadah kontekstual yang di mana dalam lagu-lagunya dimasukan Bahasa Biak dan khususnya di Opiaref ada lagu sepanjang masa yang tadi kita pakai, banyak lagu-lagu yang bagus yang untuk anak-anak zaman sekarang itu sudah hampir dilupakan,” tutur Margaretha.

Diharapkan di masa yang akan datang akan ada banyak nuansa etniknya, selain dari Biak karena di Opiaref ada suku Toraja, suku Batak, suku Ambon juga suku Timor.

“Mungkin nantinya bisa dimasukkan lagi ke dalam ibadah-ibadah berikut agar mereka merasa bahwa kita adalah satu kesatuan. Kita tidak memisahkan mereka, kita hanya mengutamakan bahasa Biak. Untuk itu rencana kedepannya nanti kita gunakan pada ibadah,” tandasnya.

Gereja persekutuan manapun tidak mungkin ada, kalau tidak ada peristiwa pencurahan Roh Kudus.

“Karena itu. dengan peristiwa pencurahan Roh Kudus dimana saat para rasul diberikan keberanian dan kekuatan oleh Roh Kudus dengan satu gerakan untuk memberitakan Injil mulai dari sana sampai kepada kita di Biak. Maka sekarang banyak sekali gereja-gereja yang tumbuh dan berkembang dan itu semua karena pekerjaan Roh Kudus,” pungkasnya.

HDK