Koreri.com, Sentani – Total jumlah peserta yang hadir pada acara Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) VI yang resmi dibuka Senin (24/10/2022) mencapai 2300 orang.
Jumlah peserta pada hajatan nasional tersebut diperkirakan akan terus bertambah.
Demikian disampaikan Ketua Umum Panitia KMAN VI Mathius Awoitauw, dalam sambutannya saat momen pembukaan.
“Peserta KMAN VI sebanyak 2.300 orang dan akan terus bertambah dari jumlah itu. Peninjau sendiri ada 130 orang, dan masyrakat adat Papua dan Papua Barat ada 200 orang,” rincinya.
Lanjut Awoitauw, KMAN VI dengan tuan rumah wilayah adat Tabi Papua adalah hasil keputusan KMAN V yang berlangsung di Medan, Sumatera Utara, pada 2017 lalu.
Selanjutnya, dalam KMAN VI yang akan berlangsung 24 – 30 Oktober 2022 ini juga akan memutuskan pelaksanaan Kongres VII pada lima tahun yang akan datang.
“Khusus untuk masyarakat adat Tabi dan Kabupaten Jayapura dalam perayaan 9 tahun hari kebangkitan adat tepat pada 24 Oktober hari ini, mereka sudah menghasilkan karya-karya yang luar biasa sebagai Amanat Undang-undang Otsus Provinsi Papua,” urainya.
Yang pertama, terkait status 14 kampung adat di Kabupaten Jayapura.
Dimana negara telah memberikan kodifikasi untuk pertama kalinya di Indonesia dari Kabupaten Jayapura dan telah siap 38 kampung berikutnya dalam proses untuk mendapatkan kodifikasi.
“Dengan adanya kodifikasi ini, berbondong-bondong semua kampung menjadikan kampung adat. Itu pertanda bahwa kitorang ada,” rincinya.
Kedua, sejak 2018 Pemerintah daerah sudah membentuk satu gugus tugas masyarakat adat berdasarkan amanat UU Otsus, Perdasus Nomor 22 dan 23 yang memerintahkan agar Bupati/Wali Kota segera membentuk tim kajian masyarakat adat di setiap wilayah adat Kabupaten/Kota.
Kabupaten Jayapura sudah memiliki Perda Nomor 8 Tahun 2021 tentang gugus tugas masyarakat adat dan ini merupakan satu lembaga permanen yang dimiliki masyarakat di wilayah ini dan berkantor di kantor Bupati Jayapura.
“Jadi, kantor Bupati bukan milik pemerintah saja tapi masyakat adat juga ada tempat untuk mereka bekerja,” tandasnya.
Kemudian, mereka (masyarakat adat) sudah hasilkan dari 14 kampung adat ini 1,4 juta hektar wilayah adat dan sudah dipetakan dari 8 wilayah adat kampung dan sub kampung dengan jumlah 26.899,6 hekter yang sudah dipetakan.
Ketiga, 6 kawasan hutan telah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
“9 tahun yang kita rayakan hari ini mengenai kebangkitan adat itu hasil karya masyarakat adat sendiri dan ini hadiah terbesar masyarakat adat di wilayah Tabi dan Pemerintah pusat akan menyerahkan salinan dokumen ini kepada masyarakat adat dalam HUT ke 9 sekaligus disaksikan oleh seluruh masyarakat adat Nusantara yang hadir dalam kongres ini,” tandasnya.
Atas nama panitia secara nasional juga panitia lokal di Kabupaten maupun Kota Jayapura dan seluruh masyarakat adat Papua, Awoitauw menyampaikan selamat datang dan terima kasih untuk kehadiran semua peserta dari kampung-kampung yang jauh menempuh perjalanan ke Papua.
“Hanya satu kata bahwa kami masih ada. Dan dalam suasana seperti ini, kita bisa lihat bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya kata-kata tetapi mereka adalah pencetusnya terhadap bangsa dan Negara. Dan mereka masih ada sampai hari ini, kita bangga dengan masyarakat adat di seluruh Nusantara,” tandasnya.
Awoitauw menegaskan masyarakat adat akan memberikan kontribusi besar untuk kejayaan Indonesia.
“Selamat merayakan Hari Kebangkitan Adat dan digelarnya Festival Danau Sentani. Juga selamat atas terselenggaranya Kongres Masyarakat Adat Nusantara VI di wilayah adat Tabi selama 1 minggu ke depan,” ucapnya sekaligus mengakhiri sambutannya.
RED
























