Koreri.com, Timika – Perdamaian akhirnya terwujud di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah setelah hampir empat bulan dilanda konflik yang mengoyak sendi kehidupan sosial warga di wilayah itu.
Konflik antar kelompok Dang dan Newegalen resmi berakhir melalui prosesi adat patah panah dan tukar babi yang digelar di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Senin (12/1/2026).
Prosesi adat tersebut menjadi simbol berakhirnya pertikaian sekaligus pemulihan hubungan persaudaraan antara kedua kelompok.
Patah panah dimaknai sebagai penghentian segala bentuk peperangan, sementara tukar babi melambangkan rekonsiliasi dan ikatan kembali tali kekeluargaan.

Selain prosesi adat, perdamaian juga diperkuat melalui penandatanganan kesepakatan damai oleh perwakilan kelompok Dang dan Newegalen.
Penandatanganan tersebut disaksikan unsur Pemerintah Kabupaten Mimika dan Pemerintah Kabupaten Puncak sebagai bentuk legitimasi dan pengawasan bersama.
Prosesi dipimpin langsung Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong, bersama Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal serta Penjabat Sekretaris Daerah Puncak Nenu Tabuni.
Seluruh rangkaian acara turut disaksikan oleh kedua kubu yang sebelumnya terlibat konflik.

“Ini menjadi contoh bagi kita semua untuk selalu hidup damai, hidup dengan baik dan hidup sebagai satu keluarga,” imbuhnya.
Penegasan serupa disampaikan Pj Sekda Puncak Nenu Tabuni.
Ia menekankan bahwa kesepakatan damai yang telah ditandatangani bersifat final dan mengikat seluruh pihak yang terlibat.
“Tidak boleh ada lagi perang. Tidak ada lagi bicara lebih atau kurang. Semua sudah disepakati di hadapan kedua belah pihak, aparat pengawas, Pemerintah daerah, hingga kelurahan,” tegasnya.

Pantauan lapangan, meski sempat diwarnai interupsi, seluruh rangkaian prosesi perdamaian akhirnya berlangsung tertib dan kondusif.
Kesepakatan ini disepakati sebagai penutup konflik antar kelompok Dang dan Newegalen, sekaligus menjadi titik awal membangun kembali kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan harmonis di Distrik Kwamki Narama.
EHO
























