Aksi Kekerasan Siswa Terjadi di SMA Taruna Kasuari, DPRP PB Akan Evaluasi Hal Ini

Aksi Kekerasan di SMK Taruna Kasuari
Wakil Ketua II DPRP Papua Barat Syamsudin Seknun,S.Sos.,S.H.,M.H saat mengunjungi SMK Taruna Kasuari, Kabupaten Manokwari, Kamis (23/4/2026) / Foto : Ist

Koreri.com, Manokwari – Kasus kekerasan antar siswa kembali terjadi di SMA Taruna Kasuari, Kabupaten Manokwari, Papua Barat melibatkan siswa kelas XI terhadap siswa kelas X.

Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (22/4/2026) malam, dan menyebabkan delapan korban harus mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Angkatan Laut setempat.

Insiden kekerasan yang dilakukan sejumlah siswa senior kepada yuniornya menuai keprihatinan dari para orang tua.

Salah satu orang tua korban, Desi Parera, mengaku sangat menyayangkan insiden yang menimpa anaknya. Sebagai orang tua, dirinya mempercayakan penuh pendidikan anaknya kepada pihak sekolah dengan harapan lingkungan belajar yang aman dan kondusif.

“Kami sebagai orang tua sangat menyayangkan kejadian ini. Kami memasukkan anak ke sekolah dalam keadaan sehat, tanpa kekurangan apa pun. Tapi justru di sekolah terjadi hal seperti ini hingga anak kami mengalami memar,” sesalnya, Kamis (23/4/2026).

Dijelaskan bahwa, peristiwa tersebut diketahui olehnya sekitar pukul 20.30 WIT, meski kejadian diduga telah terjadi sejak pukul 19.00 WIT. Informasi awal diperoleh dari grup komunikasi orang tua siswa yang menyebutkan adanya korban pemukulan.

“Saat kami tahu, kami langsung mencari ke sekolah dan rumah sakit karena ada informasi korban dibawa ke sana. Kami sempat cek satu per satu, tapi tidak menemukan anak kami. Ternyata dia sudah pulang ke rumah dalam kondisi luka”, jelasnya.

Menurut Desi, anaknya mengalami pemukulan di bagian wajah, perut, dan belakang tubuh.

“Di pipi dan bagian belakang tubuhnya bengkak. Tadi malam bahkan lebih parah. Dari keterangan anak, dia dipukul beramai-ramai dalam kondisi gelap”, ungkapnya.

Desi sangat menyayangkan SMA Taruna Kasuari dikenal sebagai sekolah unggulan yang sangat selektif terhadap penerimaan siswa, padahal insiden ini sudah mencoreng nama baik sekolah.

Karena itu, ia berharap pihak sekolah dapat lebih serius dalam memperbaiki sistem pengawasan dan manajemen keamanan.

“Sekolah ini sekolah unggulan, masuknya juga tidak mudah. Kami berharap manajemen dan pengawasan diperbaiki. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi”, tegasnya.

Desi juga mengingatkan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat mendidik, bukan ruang terjadinya kekerasan yang berpotensi membahayakan nyawa siswa.

“Sekolah itu untuk mendidik, bukan membuat anak-anak jadi korban kekerasan. Kalau tidak ditangani serius, ini bisa berujung fatal”, katanya.

Tokoh masyarakat Arfak Markus Waran menyampaikan kekecewaannya secara langsung di hadapan pimpinan DPR Provinsi Papua Barat Syamsudin Seknun saat kunjungan ke lokasi sekolah tersebut.

Ia menilai insiden tersebut dipicu oleh lemahnya sistem keamanan di lingkungan sekolah.

“Kami minta perhatian serius dari pemerintah, khususnya DPR, agar persoalan keamanan di sekolah ini segera dibenahi. Jangan sampai kejadian seperti ini terus berulang”, tegas Markus Waran.

Menanggapi insiden ini, Wakil Ketua II DPRP Papua Barat Syamsudin Seknun menegaskan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pimpinan untuk menyiapkan dukungan anggaran guna meningkatkan fasilitas dan keamanan sekolah.

“Kami akan perintahkan secara langsung terkait kebutuhan yang ada. Persoalan ini berkaitan dengan anggaran, sehingga akan kami dorong melalui program pendidikan dari pemerintah daerah,” ujarnya.

Secara tegas Sase sapaan akrab Syamsudin mengatakan kasus ini akan menjadi bahan evaluasi bagi DPRP dalam menentukan kebijakan anggaran ke depan, terutama untuk memastikan lingkungan pendidikan yang aman bagi para siswa.

“Jika memang akar persoalannya adalah kurangnya keamanan, maka ini akan menjadi standar evaluasi kami. Kami akan melakukan langkah melalui politik anggaran untuk mengatasi hal tersebut”, tambahnya.

Pihak terkait diharapkan segera mengambil langkah konkret agar kejadian serupa tidak terulang dan proses belajar mengajar dapat berjalan dengan aman dan kondusif.

KENN