Koreri.com, Merauke – Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University menggelar pelatihan promosi digital, desain Canva, dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) bagi siswa dan siswi SMAN Plus Urumb, Merauke, Papua Selatan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Tim 11 dalam meningkatkan keterampilan digital generasi muda sekaligus mendorong mereka untuk mengenali dan mempromosikan potensi lokal di lingkungan sekitar.
Mengusung tema “Dari Produk Lokal Jadi Konten Digital”, pelatihan dikemas dengan pendekatan sederhana, interaktif, dan berbasis praktik.
Siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai promosi digital, tetapi juga diajak mencoba secara langsung bagaimana sebuah produk lokal dapat diperkenalkan melalui media digital.
Kegiatan diawali dengan mengajak siswa melihat berbagai potensi yang ada di sekitar mereka.
Sagu menjadi salah satu contoh utama yang digunakan dalam materi.
Siswa diajak memahami bahwa produk lokal yang sudah tersedia di lingkungan masyarakat memiliki peluang untuk dikenal lebih luas apabila mampu dikemas dan diperkenalkan dengan cara yang menarik.
Ketua Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB 2026, Muhammas Iqbal Nurulhaq,SP,MSi mengungkapkan keberadaan sebuah produk belum tentu membuat masyarakat langsung mengetahuinya.
“Produk yang baik tetap membutuhkan promosi agar masyarakat dapat mengenal, tertarik, dan kemudian mencari informasi lebih lanjut mengenai produk tersebut,”ungkapnya disela-sela kegiatan
Pelatihan promosi digital, desain Canva, dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) bagi siswa dan siswi SMAN Plus Urumb, Senin, (28/09).
Menurutnya, konsep ini diperkenalkan melalui alur sederhana, yaitu tahu, tertarik, bertanya, dan membeli.
“Dalam materi, siswa juga diperkenalkan dengan empat pertanyaan sederhana yang dapat digunakan ketika membuat promosi, yaitu apa produknya, mengapa produk tersebut menarik, berapa harganya, dan di mana produk tersebut dapat diperoleh,”imbuh Iqbal.
Dikatakan, pendekatan ini digunakan agar siswa tidak merasa bahwa promosi merupakan sesuatu yang rumit.
“Sebagai contoh, Tim 11 menggunakan produk cookies sagu lokal. Siswa diajak melihat bagaimana informasi mengenai bahan, cita rasa, keunggulan, harga, dan cara pemesanan dapat disusun menjadi materi promosi yang lebih menarik. “katanya.
Selain itu, pelatihan juga mengarahkan siswa untuk melihat media sosial sebagai ruang yang dapat digunakan untuk memperkenalkan produk lokal.
“Jadi melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, dan Facebook menjadi beberapa contoh media yang diperkenalkan kepada peserta,”bebernya.
Iqbal menyebutkan media tersebut dipilih karena dekat dengan aktivitas sehari-hari generasi muda.
“Selain memahami konsep promosi, siswa juga mendapatkan pelatihan desain menggunakan Canva,”sebutnya.
Dikatakan, tim 11 tidak hanya memperkenalkan aplikasi Canva, tetapi juga memberikan modul pelatihan yang berisi panduan dan tahapan dasar dalam membuat desain.
“Modul tersebut disusun untuk membantu siswa mengikuti proses desain secara bertahap. Siswa diarahkan mulai dari mengenali kebutuhan desain, memilih dan mengatur elemen visual, memasukkan foto produk, menambahkan teks, hingga menghasilkan desain yang siap digunakan sebagai media promosi,”jelas Iqbal.
Melalui praktik tersebut, siswa belajar membuat desain produk dan poster promosi menggunakan Canva.
Pendekatan praktik digunakan agar siswa dapat langsung mencoba setiap tahapan dan tidak hanya memahami materi secara teori.
“Dengan adanya modul, siswa juga memiliki bahan yang dapat dipelajari kembali setelah kegiatan selesai. Hal ini diharapkan dapat membantu mereka mengulang langkah-langkah desain secara mandiri dan mengembangkan keterampilan tersebut untuk kebutuhan lain di kemudian hari,”tukasnya.
Lanjutnya, pihaknya juga mendorong pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam mengembangkan ide promosi.
“Dimana siswa diperkenalkan dengan beberapa penggunaan AI yang sederhana dan relevan, seperti mencari ide nama produk, membuat slogan, menyusun caption media sosial, mencari ide video pendek, dan mengembangkan gagasan promosi,”lanjut Iqbal.
Dalam praktiknya, siswa diberikan contoh bagaimana informasi mengenai sebuah produk dapat diberikan kepada AI untuk menghasilkan beberapa alternatif materi promosi.
“Misalnya, siswa dapat memasukkan informasi mengenai cookies sagu yang dibuat dari sagu lokal Papua, kemudian meminta AI membantu membuat caption yang sesuai dengan target konsumen, “katanya lagi.
Iqbal menjelaskan pihaknya juga menekankan bahwa AI bukan pengganti manusia. AI digunakan sebagai alat bantu untuk mencari ide dan mengembangkan gagasan.
“Hasil yang diberikan AI tetap perlu diperiksa, dipilih, dan disesuaikan dengan kondisi produk yang sebenarnya. Pesan tersebut dirangkum dalam prinsip “AI membantu, kita yang menentukan.”,”jelasnya.
Sementara itu Kepala SMAN Plus Urumb, Helena Ngarbingan, S. Pd mengapresiasi Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB Universty yang berbagi ilmu dan keterampilan yang diharapkan menjadi bekal bagi siswa untuk menghadapi kebutuhan di masa depan.
.
“Terima kasih banyak telah membagi ilmu kepada siswa-siswi kami di sekolah ini. Semoga ilmu yang diberikan dapat menjadi bekal untuk mereka ke depannya.”ujarnya.
Pihaknya melihat pelatihan ini, siswa diajak untuk memulai dari hal yang dekat dengan kehidupan mereka.
Produk yang ada di sekitar dapat menjadi bahan untuk belajar. HP yang digunakan sehari-hari dapat menjadi alat untuk membuat konten.
Bagi Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University, pengembangan kapasitas generasi muda menjadi salah satu langkah untuk mendukung pemanfaatan potensi lokal.
Melalui keterampilan promosi digital, desain Canva, dan pemanfaatan AI, siswa diharapkan memiliki kemampuan dasar untuk mengenali potensi di sekitarnya, mengemasnya menjadi informasi yang menarik, dan memperkenalkannya melalui media digital.
MAN












