Kualitas Udara Sorong Kategori Tidak Sehat, Ini Penyebabnya

IMG 20261003 054747
Kualitas Udara Kota Sorong berdasarkan Data dan Informasi Stasiun Pemantauan Atmosfer Global (GAW) , Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Sorong/Foto: Dok BMKG Sorong

Koreri.com, Sorong – Kualitas udara di Kota Sorong berada pada kategori tidak sehat berdasarkan hasil pemantauan konsentrasi partikulat halus atau PM2,5 dalam 24 jam terakhir.

Nilai konsentrasi PM2,5 yang telah dirata-ratakan kemudian dikonversi ke Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan berada pada angka 121.

Staf Bidang Data dan Informasi Stasiun Pemantauan Atmosfer Global (GAW), Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Sorong Harashta Yuqdha Anzar mengatakan data tersebut merupakan hasil pemantauan selama 24 jam, mulai pukul 09.00 WIT hari sebelumnya hingga pukul 08.00 WIT pada hari pengukuran.

“Data yang kita pakai itu dari jam 9 hari kemarin sampai 8 pagi ini. Kita olah biasanya per jam 9 pagi. Paling tingginya di jam 13 atau jam 1 siang di hari kemarin,” kata Harashta, Jumat (2/10/2026).

IMG 20261003 054814
Staf Bidang Data dan Informasi Stasiun Pemantauan Atmosfer Global (GAW) , Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Sorong Harashta Yuqdha Anzar/Foto: Suzan

Menurut dia, konsentrasi PM2,5 tertinggi dalam periode pemantauan tersebut mencapai 114,4 mikrogram per meter kubik. Sementara konsentrasi terendah tercatat sebesar 52,2 mikrogram per meter kubik.

“Kalau dirata-ratakan dalam 24 jam nilainya 75,32. Kemudian dikonversi ke ISPU, nilainya 121 yang masuk kategori tidak sehat,” ujarnya.

Harashta menjelaskan, salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kualitas udara di Sorong adalah tidak adanya hujan.

Kondisi tersebut membuat partikulat di udara lebih sulit tersapu atau berkurang secara alami.

Selain kondisi cuaca, hasil pemantauan juga menunjukkan adanya sejumlah titik panas (hotspot) di beberapa wilayah Papua.

Namun, jumlah titik panas di Kota Sorong sendiri disebut tidak terlalu banyak.

Sebaran titik panas justru lebih banyak terpantau di wilayah seperti Fakfak, Kaimana, Merauke, Mappi, dan Boven Digoel.

Kondisi tersebut kemudian dapat mempengaruhi kualitas udara di wilayah lain akibat pergerakan massa udara dan arah angin.

“Memang anginnya itu sedang berpola bergerak dari tenggara menuju ke barat laut. Jadi memang dari Merauke terbawa sampai ke Fakfak. Yang dari Kaimana juga terbawa sampai ke Sorong,” jelas Harashta.

Dengan kondisi atmosfer dan pola angin yang masih berlangsung, kualitas udara di Kota Sorong diperkirakan masih berpotensi berada pada kondisi serupa dalam beberapa hari ke depan.

Harashta menyebut kondisi tersebut dapat berlangsung sekitar 3 hingga 7 hari ke depan, meskipun perkembangan kualitas udara tetap bergantung pada kondisi cuaca, hujan, arah angin, serta sumber partikulat di wilayah sekitar.

Untuk itu masyarakat diingatkan meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat, mengurangi paparan asap dan menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar ruangan dan menghindari pembakaran di ruang terbuka.

Masyarakat juga diimbau agar menjaga. asupan makanan bergizi dan mengkonsumsi vitamin, membersihkan tubuh termasuk cuci tangan dan kaki setelah beraktivitas di luar rumah, menutup pintu dan jendela ketika kondisi udara di luar berasap serta memantau perkembangan kualitas udara dan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.

ZAN