Koreri com, Sorong – Kontingen Papua Barat Daya (PBD) berhasil meraih juara II umum Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XIV Tingkat Nasional Tahun 2026 di Manokwari, Provinsi Papua Barat akhir Juni lalu.
Pengucapan syukur jemenangan Pesparawi Nasional itu digelar dalam acara penjemputan oleh Gubernur Elisa Kambu sekaligus disyukuri dalam ibadah singkat di Gedung Lamberth Jitmau, Kota Sorong, Sabtu (4/7/2026).
Hadir dalam acara penyambutan,
Gubernur Elisa Kambu, Ketua DPRP PBD Ortis Sagrim, Bupati Maybrat Karel Murafer, Wakil Wali Kota Sorong Anshar Karim, pengurus LPPD serta anggota kontingen.
Kontingen Pesparawi PBD meraih medali Gold 1 sekaligus 1 Champion kategori lomba Vocal Grup dan juga kategori lomba Solo anak usia 7-10 tahun putri dengan menyabet medali Gold 1 dan 1 Champion.
Kemudian kategori paduan suara dewasa campuran meraih Gold 4, Musik Gereja Nusantara Gold 4, Paduan Suara Pria Gold 5, Paduan Suara Remaja Pemuda Gold 6, Paduan Suara Wanita Gold 8, Solo Remaja Pemuda Putri Gold 9, Paduan Suara Anak Gold 10 dan kategori solo anak usia 11-15 tahun putri-putra Gold 21.
Selanjutnya kategori musik pop gereja Silver 11 dan solo remaja pemuda putra silver 18.
Pada kesempatan itu, Ketua LPPD PBD menyerahkan secara simbolis dua champion hasil prestasi yang diraih kontingen provinsi termudah di Pesparawi Nasional XIV kepada Pemerintah daerah setempat.
Gubernur Elisa Kambu dalam sambutannya mengatakan, program keagamaan berjenjang, seperti Pesparawi, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani), sangat bergantung pada dukungan penuh dari Pemerintah di semua tingkatan.
Program ini merupakan bagian dari agenda nasional yang dilaksanakan secara sistematis mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Setiap daerah memiliki peran strategis dalam menyiapkan peserta terbaik melalui proses seleksi dan pembinaan yang terstruktur.

Lanjut Kambu, dalam mekanismenya pemerintah kabupaten/kota menjadi ujung tombak Pembinaan, mengingat basis peserta berada di daerah tersebut. Sementara itu, Pemerintah provinsi berperan sebagai koordinator yang mengintegrasikan seluruh peserta dari berbagai daerah.
Peserta yang berhasil meraih prestasi di tingkat kabupaten/kota akan melaju ke tingkat provinsi. Selanjutnya, para juara akan dibina oleh pemerintah provinsi untuk dipersiapkan menghadapi kompetisi di tingkat nasional.
Pola ini juga berlaku lintas kegiatan keagamaan, baik dalam MTQ maupun Pesparani yang melibatkan umat Katolik. Seluruh proses pembinaan dikembalikan kepada Lembaga Pengembangan Pesparani Daerah (LPPD) di masing-masing wilayah.
Dari sisi pendanaan, seluruh kegiatan masih bergantung pada anggaran pemerintah, tanpa sumber pembiayaan alternatif yang signifikan. Oleh karena itu, komitmen Pemerintah daerah dan pusat menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan serta kualitas pelaksanaan program.
Dengan sistem berjenjang yang terstruktur, diharapkan program ini tidak hanya melahirkan peserta berprestasi, tetapi juga memperkuat pembinaan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua kontingen Pesparawi P, Pdt Simon Apono,S.Th mengatakan bahwa sejak awal para penyanyi tidak dibebani target menjadi juara. Mereka hanya bertekad memberikan penampilan terbaik dengan kemampuan yang dimiliki.
“Mereka tidak punya target, tidak punya ambisi apa-apa. Mereka hanya ingin memberikan yang terbaik dengan apa yang mereka punya,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Hal yang paling membanggakan dari seluruh peserta adalah kesetiaan mereka dalam beribadah di tengah padatnya jadwal latihan dan perlombaan.
Dalam suasana capek apa pun, pagi maupun malam, mereka selalu beribadah. Ini adalah buah dari ketulusan, kesetiaan, dan disiplin mereka.
Simon menegaskan, tujuan utama keikutsertaan Papua Barat Daya dalam Pesparawi bukan hanya mengejar gelar juara, tetapi membentuk karakter generasi muda yang memiliki kualitas iman yang kuat.
Menurutnya, lagu pujian bukan sekadar media untuk berlomba, tetapi menjadi sarana membangun spiritualitas peserta agar tumbuh sebagai generasi muda gereja sekaligus generasi muda Papua Barat Daya yang berkarakter.
Ia juga mengapresiasi kekompakan seluruh tim, mulai dari pelatih hingga pengurus Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Papua Barat Daya yang tetap bekerja maksimal meski menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk persoalan pendanaan.
“Bapak Gubernur juga tahu tantangan yang kami hadapi, tetapi itu tidak pernah menyurutkan komitmen dan motivasi seluruh tim untuk memberikan yang terbaik,” katanya.
Tak hanya itu, Simon memberikan penghargaan kepada para orang tua peserta yang dinilainya menjadi sistem pendukung utama selama pelaksanaan Pesparawi.
Ia menyebut, ada orang tua yang rela mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli tiket perjalanan demi mendampingi anak-anak mereka bertanding tanpa meminta penggantian biaya dari panitia.
“Mereka rela berkorban karena ingin anak-anaknya menjadi lebih baik,” ujarnya.
Sebagai provinsi termuda di Indonesia, Simon menilai capaian Papua Barat Daya pada Pesparawi Nasional XIV merupakan prestasi yang membanggakan. Namun, menurutnya, hasil tersebut juga menjadi tantangan besar menjelang Pesparawi Nasional XV.
Ia berharap Papua Barat Daya mampu mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi pada ajang berikutnya.
“Kalau bisa nanti target kita menjadi lebih baik lagi, bahkan menjadi juara umum,” katanya.
Simon juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa bulan ke depan pihaknya akan mulai mempersiapkan pelaksanaan Pesparawi tingkat provinsi sebagai bagian dari pembinaan menuju Pesparawi Nasional berikutnya.
KENN
























