Pangdam Cenderawasih dan Pastor Djonga Bahas Ketahanan Umat di Perbatasan RI-PNG

WhatsApp Image 2021 03 28 at 19.36.30
Pangdam Cenderawasih, Mayjen TNI. Yogo Triyono Terima Kunjungan Pastor Jhon Djonga di Makodam XVII/Cenderawasih, Jumat (26/3/2021). Foto: Pendam Cendewasih

Koreri.com, Jayapura – Panglima Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono, menerima kunjungan Pastor John Djonga, Pr membahas ketahanan umat beragama demi kesejahteraan, keadilan dan kedamaian hidup antar sesama umat beragama yang mendiami wilayah perbatasan RI-PNG.

Silaturahmi dan diskusi intens bertemakan “Ketahanan Umat di Perbatasan” berlangsung di Markas Kodam (Makodam) XVII/Cenderawasih, Jayapura, Jumat (26/3/2021) dalam suasana penuh keakraban dan persaudaraan.

Pastor Djonga sejak tahun 2020 menerima penugasan dari Uskup Keuskupan Jayapura untuk memberikan pelayanan pastoral (penggembalaan) bagi umat Katolik di Koya Barat dan Koya Tengah – dua wilayah yang terletak di perbatasan RI-PNG.

Koya Barat dan Koya Tengah termasuk dalam wilayah pelayanan Gereja Katolik Paroki Gembala Baik, Abepura , Keuskupan Jayapura; sedangkan dari segi administratif pemerintahan, Koya Barat dan Koya Tengah masuk dalam wilayah pemerintahan Kota Jayapura.

Pastor Djonga menyampaikan data umat beragama di wilayah perbatasan khususnya umat Katolik yang dilayaninya, suasana kerukunan hidup intern dan antarumat beragama, keamanan wilayah, kehidupan sosial dan ekonomi umat beragama di perbatasan antarnegara dimana wilayah perbatasan merupakan beranda Negara Republik Indonesia dalam pergaulan masyarakat antarbangsa.

Pastor Djonga mengatakan, setiap hari umat beragama yang adalah warga masyarakat Kota Jayapura, Provinsi Papua bersama warga masyarakat perbatasan Negara PNG saling berinteraksi. Mereka adalah saudara serumpun dalam suku dan tradisi leluhur yang sama. Garis batas antarnegara merupakan batas yang artifisial – karena secara turun temurun, masyarakat asli di dua wilayah perbatasan antarnegara ini adalah saudara-bersaudara dalam budaya yang sama, leluhur yang sama dan tradisi Kristiani yang sama pula.

Mayoritas warga masyarakat asli di wilayahperbatasan kedua negara ini adalah pemeluk Kristiani dari Gereja Protestan dan Katolik. Tidak dipungkiri, warga masyarakat yang beragama Islam juga bermukim dan berbaur dengan umat beragama Kristiani. Umat Muslim dan Kristiani dikenal bersaudara dalam iman monotheisme yang diwarisi Nabi Ibrahim. Semua umat beragama di wilayah ini terus berjuang agar dapat hidup dalam suasana rukun dan damai.

Pastor Djonga mengatakan, fokus pendampingan umat yang dipimpinnya pada “Ketahanan Iman Keluarga di perbatasan”. Mayoritas keluarga Katolik di wilayah yang dipimpinnya berasal dari Kabupaten Pegunung Bintang dan Kabupaten Boven Digoel – dua kabupaten yang juga berbatasan langsung dengan Negara PNG.

Keluarga-keluarga ini bermigrasi ke wilayah perbatasan Jayapura sekitar tahun 1970-an. Semula keluarga-keluarga ini bermukim secara terpencar-pencar, namun pada tahun 1983, pihak Keuskupan Jayapura mendapatkan lahan seluas 10 hektar di wilayah Koya dan menempatkan mereka dalam satu lokasi agar mereka mudah berinteraksi dalam bahasa dan tradisi yang sama yang mereka bawa dari daerah asalnya.

Pada saat ini, keluarga-keluarga ini menghadapi banyak masalah antara lain, dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga dan meningkatnya kebutuhan hidup setiap hari. Mereka merasakan lahan pertanian semakin sempit. Selain itu, di dalam kehidupan rumah tangga, sering terjadi kekerasan terhadap perempuan. Diskriminasi dan ketidakadilan terhadap perempuan menjadi permasalahan tersendiri.

“Gereja Katolik menolak segala sikap dan perilaku yang diskriminatif terhadap perempuan dan mendukung segala usaha untuk menentang tindakan kekerasan terhadap perempuan,” kata Pastor Djonga.

Selain diskriminasi terhadap perempuan, wilayah perbatasan antarnegara RI-PNG dikenal sangat rentan akan terjadinya perdagangan narkotika dan obat-obat terlarang (Narkoba) yang berdampak lanjut pada terjadinya banyak tindakan kekerasan (kriminalitas) dan berbagai dampak sosial lainnya seperti pengangguran kaum muda, pencurian dan mabuk-mabukan.

“Kami tahu bahwa selama ini telah banyak prajurit TNI berada di wilayah perbatasan. Mereka bertugas dalam Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan atau Satgas Pamtas RI–PNG. Tentara itu juga adalah manusia beragama yang merupakan bagian integral dari umat beragama sehingga diharapkan mereka tidak hanya aktif berperan membangun ketahahan hidup berbangsa dan bernegara Indonesia, tetapi juga ketahanan iman umat beragama di wilayah perbatasan ini. Untuk itulah kami berdiskusi dengan Pangdam Ignasius pada hari ini,” kata Pastor Djonga.

Menanggapi laporan peraih penghargaan Yap Thiam Hien Tahun 2009 ini , Pangdam Cenderawasih, Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono, M.A menyambut baik karya penggembalaan umat Katolik yang dilakukan Pastor John Djonga dalam rangka meningkatkan “Ketahanan Hidup Keluarga” di wilayah perbatasan antarnegara RI-PNG.

Prajurit TNI adalah juga warga umat beragama yang tentu memiliki kewajiban moril ikut serta membangun ketahanan hidup umat beragama, selain ketahanan hidup berbangsa dan bernegara Indonesia. Kami ingin mengunjungi umat yang adalah warga masyarakat perbatasan antarnegara RI-PNG.

Sesuai kemampuan yang dimiliki, prajurit TNI tentu saja akan ikut membantu mendampingi dan meningkatkan ketahanan umat di berbagai bidang seperti peningkatan ekonomi keluarga, keamanan hidup bermasyarakat dengan bertugasnya Babinsa, bidang kesehatan melalui bakti sosial TNI seperti pemeriksaan dan pengobatan serta khitanan dan sebagainya.

Pangdam juga mengatakan, apabila di wilayah perbatasan itu terdapat orang muda yang telah menamatkan SMP atau SMA/SMK maka pihaknya meminta bantuan Pastor Djonga mengajak anak muda ini ikut serta dalam seleksi penerimaan Bintara dan Tamtama yang setiap tahun diselenggarakan Kodam XVII/Cenderawasih.

“Kita harus menyadari bahwa dibalik banyak keterbatasan sebagai manusia, orang muda putra-putri asli Papua memiliki banyak hal yang baik yang dapat kita kembangkan, antara lain mengajak mereka menjadi prajurit TNI, baik Tamtama maupun Bintara. Mereka adalah pemuda gagah perkasa yang memiliki potensi besar tidak hanya untuk membangun Indonesia di perbatasan antarnegara ini, tetapi juga di wilayah lain di seluruh Indonesia,” kata Pangdam Ignatius.

Begitu pula, kaum perempuan di perbatasan dapat didampingi para istri prajurit TNI (Persit) agar dapat terampil berperan dalam industri rumah tangga seperti mengolah buah pisang menjadi keripik pisang yang selanjutnya dapat dijual di banyak rumah makan dalam Kota Jayapura untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Di wilayah perbatasan itu banyak tumbuh pohon pisang dan banyak buah pisang yang sudah matang tidak dimanfaatkan dan terbuang begitu saja. Kita dapat memberikan pendampingan kepada kaum perempuan untuk dapat mengolah buah pisang menjadi keripik pisang, dilatih bagaimana cara mengemas keripik pisang secara higienis ke dalam kantong-kantong untuk dijual.

Dengan demikian, tidak semua perempuan di wilayah ini ramai-ramai menjual hanya satu komoditi saja seperti menjual pinang, tetapi harus bervariasi, seperti mengolah dan menjual keripik pisang, keripik singkong, keripik keladi, sehingga dapat menambah pemasukan rumah tangga.

“Kami harus datang sendiri untuk melihat situasi dan kondisi masyarakat perbatasan antarnegara ini. Paling pertama, rakyat harus merasa hidup dalam suasana yang aman dan damai dulu. Kalau sudah merasa aman dan damai, barulah kita bertanya, mencari tahu potensi apa saja yang dimiliki rakyat, setelah itu kita mulai bekerja bersama-sama secara bertahap dengan kemampuan yang dimiliki bersama,” tambah Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono, M.A

Usai pertemuan itu, secara terpisah, Pastor Djonga menggarisbawahi pernyataan akhir Pangdam Cenderawasih yang dianggapnya sangat penting yakni bahwa kita harus mulai dulu dari apa yang ada pada rakyat dan yang dimiliki rakyat, seperti kisah Sang Guru Ilahi Yesus Kristus ketika pada dua ribuan tahun lalu, berada bersama para pengikut-Nya dan pada saat ribuan pengikut-Nya itu merasa lapar, Yesus bertanya: Berapa potong roti yang ada padamu?” Seorang dari pengikut Yesus itu menjawab:”Yang ada pada kamil ima potong roti dan dua ekor ikan”.

“Rakyat harus memiliki sesuatu dulu dan dari situ kita kembangkan bersama. Kita tidak dapat melatih kaum perempuan Koya untuk mengolah roti bakar karena di sana tidak tumbuh tanaman gandum. Kita melatih mereka mengolah keripik pisang, keripik singkong, keripik keladi,  karena di Koya bertumbuh banyak pohon pisang, singkong dan keladi. Kita tidak dapat memulai dari yang tidak dimiliki rakyat,” tegas Pastor John Djonga.

SEO