Koreri.com, Jakarta – Bupati Mamberamo Tengah, Ricky Ham Pagawak, memberikan tanggapan terkait berita dari Tim Peduli Kabupaten Mamberamo Tengah yang dimuat mediaonline jubi.co.id, dengan judul Bupati Mamteng Bagi-Bagi Uang di Tanggerang, Selasa (29/3/2022).
Bupati RHP menjelaskan,bahwa pada seperti kebiasaan kala ada kegiatan di Jakarta, maka setiap Minggu, pasti menyempatkan waktu beribadah di gereja GIDI.
Saat itu, Bupati RHP bersama tiga puluhan mahasiswa, Ketua – Ketua DPC Partai Demokrat dan relawan beribadah di Gereja GIDI Jemaat Diaspora Serpong, Tanggerang, Provinsi Banten, Minggu (27/3/2022).
Setelah beribadah, Bupati RHP bersama rombongan kembali ke tempat parkiran mobil yang berada di halaman rumah warga melalui jalan lorong.
Menurut Bupati RHP, saat itu dirinya sudah ditunggu warga maka di depan warga, dirinya mengeluarkan uang sejumlah Rp 2 juta dengan pecahan 100 ribu, lalu membagikan kepada warga mulai dari orang tua, ibu-ibu, anak-anak hingga bayi.
Bupati RHP menjelaskan, sebagai pejabat negara yang adalah bupati didalam NKRI bertemu dengan warga Tanggerang yang notabene adalah WNI yang sudah ikut membantu jemaat GIDI Diaspora dengan mengijinkan mereka beribadah setiap Minggu, termasuk hari-hari besar, ikut menjaga kendaaraan jemaat yang beribadah.
Maka sebagai kader Gereja GIDI tersentuh untuk memberikan sedikit berkat kepada mereka. Akan tidak wajar ketika memberikan uang kepada WNA,Warga PNG misalnya, jika hal itu dilakukan maka wajar diprotes.
“Sesuai laporan Gembala Jemaat Diaspora, Pendeta Zet Towolom bahwa warga masyarakat sekitar yang beragama muslim memberikan ijin kepada jemaat untuk beribadah. Bahkan mereka ikut menjaga kendaraan jemaat yang mayoritas adalah mahasiswa saat beribadah termasuk mengijinkan pendeta untuk tinggal disitu,” kata Bupati RHP.
“Sehingga saya tersentuh dan membagi uang Rp2 juta kepada mereka.Apakah yang saya lakukan kepada warga muslim yang selama sudah membantu jemaat GIDI adalah salah, apalagi mereka sudah bekerja untuk gereja saya,” ujar Bupati Mamteng saat memberikan klarifikasi di Jakarta, Rabu (30/3/2022).
Bupati RHP pun memberikan contoh ketika para pejabat Papua makan malam di daerah Penconongan Jakarta, lalu ada pengamen-pengamen yang menyanyi dan setelah itu mereka memberikan uang. Apakah itu bukan menghambur-hamburkan uang.
“Demi kesenangan, pejabat itu rela mengeluarkan uang, kalo saya tidak, ini pekerjaan dan pelayanan Tuhan, yang saya beri, saya memberikan uang untuk masyarakat sekitar yang telah menjaga Gereja GIDI disitu,” tegasnya.
Bupati RHP mengaku, menyesalkan Tim Peduli Pembangunan Mamberamo Tengah yang melakukan jumpa pers sehingga dimuat media online mengaitkan bagi-bagi uang dengan pembangunan di Kabupaten Lani Jaya yang justru tidak ada kaitannya termasuk pembangunan di Kabupaten Mamberamo Tengah.
“Jalan dari Wamena ke ibukota Lani Jaya sudah ada sebelum pemekaran. Sedangkan Mamberamo Tengah jalan tembus ke ibukota Kabupaten Mamberamo Tengah sebelum pemekaran tidak ada dan itu harus dibangun Pemda Mamteng hingga tembus dengan anggaran yang besar,” ujarnya.
Lalu jumlah APBD Lanny Jaya juga jauh lebih besar hingga mendekati 1,5 triliuan. Sedang APBD Mamberamo Tengah sekitar 800 miliar lebih, selisihnya mencapai 600 milyar, bangun apa adanya, indikatornya apa sehingga dikatakan pembangunan di Kabupaten Mamberamo Tengah gagal.
“Dengan anggaran APBD yang ada,saya bangun sesuai anggaran yang ada.Tapi hari ini yang saya kerja, belum tentu seperti yang lain kerja dan itu perbandingan jauh kalau itu anggaran APBD sama baru saya tidak kerja ok, walau ada perbedaan APBD hampir 500 hingga 600 miliar, tapi hari ini saya kerja,” kata Bupati RHP.
Bupati RHP juga mempertanyakan Tim Peduli Mamberamo Tengah yang mengaku mewakili masyarakat dari 5 distrik dan 59 kampung.
“Kalau yang bicara Ketua LMA, Kepala – Kepala Suku atau pimpinan Wilayah Gereja GIDI, itu baru mewakili masyarakat 5 distrik, tetapi jika tidak, justru dipertanyakan,” tegas RHP.
Bupati RHP menilai apa yang disampaikan Tim Peduli Pembangunan Mamberamo Tengah ini sarat kepentingan dengan tujuan tertentu ini sudah berbau politik.
“Yang bicara ini mahasiswa, saya tahu dia yang selalu protes ini dan itu,yang memberitakan sesuatu tanpa melihat dan memiliki data.Jelas ini politik,” pungkasnya.
SEO
























