Koreri.com, Sorong – Kantor UPBU Kelas I Domeni Eduard Osok (DEO) Sorong menggelar coffee morning Program Keperintisan dalam Menunjang Peningkatan Konektivitas Udara d Provinsi Papua Barat Daya (PBD) Tahun 2025.
Giat tersebut bertempat di Hotel Aston Sorong, Selasa (22/5/2024).
Dalam keterangan persnya, Kepala UPBU Kelas I DEO Sorong Cece Tarya menjelaskan pertemuan ini membahas terkait bagaimana membangun konektivitas di PBD dan menjadi PR yang harus dikerjakan sebagaimana tertuang di dalam rencana pembangunan jangka menengah pembangunan kota baru Sorong.
“Dan kami dari Kementerian Perhubungan khususnya di Perhubungan Udara perlu mencermati rencana-rencana kedepan itu seperti apa dan programnya kan harus di in-line-kan dengan program Pemerintah daerah,” terangnya kepada awak media.
Dalam hal ini, bagaimana membangun konektivitas di PBD dari satu daerah ke daerah yang lain didukung adanya sarana transportasinya baik oleh darat, laut maupun udara. Dan demografi Papua ini didominasi pegunungan, perairan serta udara dan ternyata lebih banyaknya melalui udara.
Karena perjalanan via darat membutuhkan waktu untuk berkomunikasi dan berkoordinasi antara Pemda kabupaten/kota dengan provinsinya.
“Maka dengan kondisi yang demikian, kami hari ini berkesempatan memaparkan terkait dengan program keperintisan baik penumpang maupun kargo yang akan dimulai tahun depan. Karena kita sudah harus mulai di dalam RPJMN Kementerian Perhubungan, Dirjen Perhubungan Udara bandara DEO itu dijadikan sebagai hub untuk kargo,” beber Cece Tarya.
“Dengan begitu, maka kita punya kesempatan untuk bisa mengangkat komoditas-komoditas yang ada di wilayah Papua Barat Daya ini melalui Bandara DEO Sorong untuk pengiriman ke dalam negeri ataupun ke luar negeri,” tandasnya.
Cece mencontohkan data menunjukkan di kargo Bandara DEO Sorong setiap harinya tidak kurang dari 1 ton berupa marine produk yang sebenarnya isinya adalah untuk ekspor ke Singapura.
“Namun karena kita belum siap terkait dengan masalah administratif untuk sumber daripada komoditas ini dan belum ada fasilitas untuk uji mutunya sehingga kita belum bisa mengeluarkan yang namanya sertifikat origin daripada si produk ini. Maka tak heran yang punya nama baik bukan Sorong tetapi ada di Surabaya atau di Jakarta. Padahal setiap harinya ada melalui Jakarta menuju Singapura baik yang diangkut oleh Garuda ataupun oleh Batik Air,” akuinya.
Untuk itu, sambung Cece, pihaknya siap membantu potensi pasarnya sedangkan dari Pemda bagaimana bisa menggerakkan ketersediaan secara berkesinambungan komoditas yang dibutuhkan oleh pihak luar sana. Yaitu melalui kewenangan dan tanggung jawab dari setiap OPD terkait untuk masing-masing komoditasnya.
Ia mengaku pagu kebutuhan di Bandar DEO Sorong meningkat dimana tahun ini tersedia 14 miliar untuk program keperintisan dan akan mencapai 26 miliar di tahun depan.
“Dengan programnya ada penambahan frekuensi dan ada penambahan rute untuk khusus subsidi kargo. Sehingga kami berharap melalui pertemuan ini, Pemda melalui OPD terkait dapat memfasilitasi kebutuhan masyarakat terkait konektivitas transportasi udara,” imbuhnya.
Cece kemudian menyebutkan produk seperti kepiting, udang, ikan kerapu juga frozen setiap hari bervariasi dari satu hingga satu setengah ton diangkut Garuda dan Batik Air direct Jakarta.
“Maka ini bukan hanya menjadi tanggung jawab dari bandara saja tapi juga Pemerintah daerah dalam membangun konektivitas ini dengan alokasi anggaran yang sudah disediakan,” tandasnya.
Pihaknya juga ingin rajutan konektivitas antar setiap wilayah melalui peningkatan rute dan frekwensi ini dapat dikembangkan secara optimal sehingga berdampak bagi kesejahteraan masyarakat serta memberikan masukan bagi daerah.
Pemerintah Provinsi PBD melalui Kepala Dinas Koperindag PBD Dr. Suardi Thamal menyambut baik program keperintisan kantor UPBU Kelas I DEO Sorong dalam upaya membuka peluang memasarkan potensi-potensi daerah.
“Terima kasih pak Cece sudah mengambil inisiatif itu sehingga Pemda juga harus segera mempersiapkan produk unggulan daerah agar dapat dipasarkan secara berkesinambungan ke luar Papua Barat Daya hingga luar negeri,” pungkasnya.
Turut hadir, Ka bandara Teminabuan, Ka bandara Bintuni, Ka bandara Raja Ampat, Wakil Bupati dan Sekda Raja Ampat, perwakilan PT Gag Nikel, Kepala Dinas UMKM dan juga Dinas Perhubungan PBD serta perwakilan sejumlah maskapai seperti Pelita Air, Susi Air, Batik Air hingga TransNusa.
ZAN
























