Fokus  

Hari 2 Kunjungi Posyandu, Lisa Soroti 37 Kasus Stunting di Wainitu dan Kudamati

Lisa Wattimena Kunjungi Posyandu di Kec Nusaniwe
Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Ambon Lisa Wattimena bersama rombongan menyambangi sejumlah Posyandu di Kecamatan Nusaniwe, Selasa (6/10/2026) / Foto : Jefry

Koreri.com, Ambon — Memasuki hari kedua kunjungan lapangan, Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Ambon Lisa Wattimena, bersama rombongan menyambangi sejumlah Posyandu di Kecamatan Nusaniwe, Selasa (6/10/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung pelayanan Posyandu sekaligus memantau kondisi kesehatan dan tumbuh kembang anak di tingkat kelurahan.

Salah satu lokasi yang dikunjungi yakni Posyandu Beringin VI, Kelurahan Wainitu, RT 003/RW 06, yang berada di sekitar Gereja Imanuel OSM.

Di Kelurahan Wainitu terdapat sembilan Posyandu. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, dari sembilan Posyandu itu tercatat 13 anak mengalami stunting dan menjadi perhatian untuk mendapatkan penanganan secara berkelanjutan.

Lisa bersama rombongan berdialog dengan kader Posyandu serta melihat langsung pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Setelah dari Wainitu, rombongan melanjutkan kunjungan ke Gedung PTKKI Kuda Mati, di Lorong Pak Poly Kastanya, Kelurahan Kudamati.

Di Kelurahan Kudamati terdapat 12 Posyandu yang melayani masyarakat. Ke-12 Posyandu tersebut juga telah menerapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dalam pelaksanaan pelayanan Posyandu.

Dari 12 Posyandu tersebut, tercatat 24 anak mengalami stunting.

Dalam kunjungan itu, Tim Pembina Posyandu Kota Ambon turut menyerahkan bantuan bagi anak-anak stunting sebagai bentuk perhatian dan dukungan terhadap keluarga yang membutuhkan.

Dengan demikian, dari dua kelurahan yang menjadi lokasi kunjungan hari kedua, tercatat 37 anak stunting, yakni 13 anak di Wainitu dan 24 anak di Kudamati.

Lisa Wattimena Kunjungi Posyandu Kec Nusaniwe3Lisa mengatakan, keberadaan Posyandu memiliki peran strategis dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat, terutama dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi serta balita.

Menurutnya, kader Posyandu merupakan ujung tombak yang berhadapan langsung dengan masyarakat sehingga memiliki peran penting dalam melakukan deteksi dini terhadap berbagai persoalan kesehatan anak.

“Posyandu harus terus bergerak dan hadir di tengah masyarakat. Kita ingin memastikan anak-anak mendapatkan perhatian, terutama mereka yang membutuhkan penanganan dan dukungan khusus,” ujar Lisa.

Ia menegaskan, penanganan stunting tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, kader Posyandu, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat.

Lisa juga berharap seluruh Posyandu di Kota Ambon terus meningkatkan kualitas pelayanan.

Menurutnya, Posyandu tidak hanya menjadi tempat penimbangan balita, tetapi juga harus menjadi ruang edukasi bagi keluarga terkait pola asuh, pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pencegahan stunting.

“Kita harus bekerja bersama. Data yang ditemukan di lapangan harus menjadi dasar untuk melakukan intervensi, sehingga anak-anak yang membutuhkan perhatian dapat segera ditangani,” katanya.

Kunjungan lapangan tersebut menjadi bagian dari upaya Tim Pembina Posyandu Kota Ambon untuk memperkuat pelayanan Posyandu sekaligus mendorong percepatan penanganan stunting di tingkat kelurahan.

Data kasus stunting, penerapan SPM, serta kondisi pelayanan yang ditemukan di lapangan diharapkan menjadi dasar bagi penguatan intervensi dan pendampingan kepada anak maupun keluarga sasaran.

JFL