TA 2024-2025 Dimulai, Rumangun Akui SMAN 7 Ambon Kekurangan Hingga Puluhan Siswa

Kepala SMAN 7 AMbon Willem Rumangun
Kepala SMAN 7 Ambon Willem Rumangun / Foto : Ist

Koreri.com, Ambon – SMA Negeri 7 Ambon telah memulai tahun ajaran 2024-2025 dengan total jumlah input peserta didik baru dari SMP melalui jalur zonasi itu mencapai 115 siswa.

Jumlah ini masih jauh dari kuota yang dimiliki yaitu 180 siswa.

Hal itu disampaikan Kepala SMAN 7 Ambon Willem Rumangun saat diwawancarai media ini di ruang kerjanya, Senin (12/8/2024).

“Jadi dari 115 siswa ini juga kita masih tarik ulur, karena ada beberapa siswa yang memang itu mereka punya dua pilihan dalam zonasi SMA Negeri 7 Ambon. Itu rujukan ke kecamatan artinya satu kecamatan satu sonazi,” urainya.

Karena selain SMA Negeri 7 Ambon, masih ada SMA Negeri 3 Ambon, SMK Negeri 5 Ambon, SMK Negeri 2 Ambon, SMA LKMD, SMA Angkasa dan SMA Lab Unpatti, kemudian Sekolah Al Mabrur. Dan prinsipnya masing-masing sekolah level SMA, SMK itu masing-masing sudah melakukan sosialisasi terkait dengan PPDB tahun ajaran 2024 – 2025.

“Kita punya beberapa SMP pendukung atau SMP penyangga yaitu SMP Negeri 15 Ambon, SMP Advent, SMP Negeri 7 Ambon, SMP LKMD Tawiri dan SMP Angkasa Pattimura. Prinsipnya bahwa masing-masing sekolah sudah berbuat. Jadi perbandingan antara tahun ajaran 2023-2024 dengan tahun pelajaran 2024-2025 itu beda-beda tipis,” bebernya,.

Rumangun mengakui kuota yang dimiliki sekolahnya harus 180 siswa, idealnya untuk satu kurikulum. dimana  satu kelas siswanya berjumlah 36 orang.

“Jadi kalau 36 orang, maka kita itu punya 5 kelas berarti. Tinggal dikalikan untuk dapatnya 180 siswa peserta didik dan kalau kita baru menerima 115 orang berarti masih terpaut jauh kita punya sekolah itu masih sangat membutuhkan banyak peserta didik,” akuinya.

Rumangun kemudian menyinggung sejumlah SMA tertentu di Kota Ambon yang saat ini siswa barunya membludak. Dimana seharusnya, menurut dia, membuat aktivitas sebuah proses belajar itu sebaiknya satu putaran atau satu shift saja.

“Tapi ada sekolah-sekolah tertentu yang sampai terpaksa harus membuat dua shift tatap mukanya. Ini juga terpaksa mereka harus datangkan guru-guru tambahan seperti guru honor. Dan saya kira dari segi ekonomi itukan kita menambah beban sekolah. Tapi mungkin saja mereka sekolah-sekolah yang punya potensi keuangan yang sudah baik. Jadi prinsipnya kita SMA Negeri 7 Ambon hitungannya kelompok menengah atau sedang, sekolah tidak besar/tidak kecil. Karena kalau tidak demikian maka kurang lebih itu keseluruhannya lebih kurang 300 siswa. Ada juga sekolah yang lain cuma ada 27 siswa paling itu cuma untuk satu kelas itu,” ujarnya

Olehnya itu, Rumangun berharap juga tahapan manajemen PPDB ini ke depan harus lebih baik agar sekolah-sekolah lain itu tidak kekurangan siswa baru.

Ia juga menyoroti anggapan kalau banyak siswa di sekolah itu berarti kepercayaan masyarakat ke sekolah itu lebih tinggi.

“Menurut saya itu tidak masuk akal, tapi dari sisi yang lain juga itu harusnya sekolah-sekolah tertentu juga bisa sama-sama besar, maksudnya sama-sama membesarkan. Jadi kalau misalnya sudah model seperti itu. dengan kemudian dengan alasan bahwa itu karena kemauan mereka sendiri mencari sekolah itu, maka menurut saya tidak benar. Karena percuma kalau cuma satu sekolah yang dianggap bagus, bermutu bagus, pada hal konteks kita melihat konteks provinsi kebersamaan. bukan sekolah-sekolah tertentu saja. Karena kalau dari sisi nasional, Provinsi Maluku masih di bawah standar dan kalah jauh dengan sekolah-sekolah luar,” pungkasnya.

JFL