Koreri.com, Jakarta – Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas menegaskan komitmen perusahaan untuk terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah guna mendorong pembangunan yang lebih merata, khususnya di wilayah operasional perusahaan.
Tony menjelaskan, kerja sama yang dibangun selama ini bukan berkaitan dengan isu perpanjangan kontrak, melainkan fokus pada sinergi pembangunan yang berkelanjutan.
“Tidak ada kaitannya dengan perpanjangan. Yang utama adalah bagaimana kita terus berkolaborasi. Selama ini kolaborasi itu sudah berjalan dan akan terus kita perkuat,” ujarnya di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut Tony, keberadaan Freeport memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan nasional maupun daerah. Kontribusi perusahaan tidak hanya dalam bentuk penerimaan negara, tetapi juga melalui berbagai program sosial yang langsung dirasakan masyarakat.
Ia mencontohkan sejumlah fasilitas yang telah dibangun dan dimanfaatkan masyarakat, termasuk layanan pendidikan dan dukungan bagi warga, khususnya bagi pelajar.
Selain itu, Freeport juga membuka peluang pengembangan ke depan seperti pembangunan fasilitas kesehatan dan pendidikan yang lebih besar, termasuk rumah sakit dan universitas. Namun, rencana tersebut masih akan dibahas lebih lanjut bersama Pemerintah daerah.
“Ke depan tentu kita bicara bersama, termasuk dengan Pemerintah daerah, agar pembangunan seperti rumah sakit dan universitas bisa benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” sambungnya.
Dari sisi kontribusi keuangan, Tony mengungkapkan bahwa pada 2025 terdapat sekitar Rp4,8 triliun yang menjadi hak Pemda. Selain itu, terdapat tambahan sekitar Rp1,32 triliun dari bagi hasil keuntungan perusahaan.
“Sebagian sudah direalisasikan, termasuk pembayaran yang dilakukan pada April 2026. Ini menunjukkan komitmen kami dalam memenuhi kewajiban kepada negara dan daerah,” jelasnya.
Tony menegaskan, ke depan Freeport akan terus menjaga transparansi dan meningkatkan kontribusi, sekaligus memastikan bahwa manfaat keberadaan perusahaan dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat, khususnya di wilayah Papua.
EHO
























