Evaluator UNESCO Apresiasi Kemajuan Geopark Raja Ampat, Dorong Kolaborasi-Riset Global

Evaluator UNESCO Global Geopark UGGp Dr. Atsuko Niina warga negara Jepang dan Chen Fang asal China
Evaluator UGGp Dr. Atsuko Niina warga negara Jepang dan Chen Fang asal China berpose bersama Pemred Koreri.com Aris Balubun seusai memberikan keterangan pers di Kota Sorong, Jumat (21/8/2026) / Foto : KENN

Koreri.com, Sorong – Global Geopark Raja Ampat dinilai menunjukkan kemajuan signifikan sejak 2022. Namun, capaian tersebut masih perlu diperkuat, terutama melalui kolaborasi antar geopark, pengembangan riset dan keterlibatan masyarakat di setiap kawasan geosite.

Hal itu disampaikan Evaluator UNESCO Global Geopark (UGGp), Dr. Atsuko Niina warga negara Jepang dan Chen Fang asal China setelah melakukan evaluasi terhadap kawasan Global Geopark Raja Ampat di Provinsi Papua Barat Daya.

Dalam keterangan persnya kepada Koreri.com di Kota Sorong, Jumat (21/8/2026), Dr. Atsuko menjelaskan, perkembangan Geopark Raja Ampat terlihat di berbagai aspek. Keindahan alam, kebersihan sejumlah geosite, keramahan masyarakat hingga kekayaan kearifan lokal menjadi modal penting yang perlu terus dipertahankan.

“Kami melihat sejak 2022 sudah sangat banyak kemajuan yang dicatat dari Global Geopark Raja Ampat. Kemajuan itu terlihat di berbagai aspek,” ujarnya pada saat acara makan malam bersama di Ruang Canopus, Vega Prime Hotel, Kota Sorong, Jumat (21/8/2026).

Meski demikian, Atsuko menilai pengelolaan UGGp di Raja Ampat perlu didorong agar tidak hanya mengandalkan potensi alam sebagai daya tarik wisata. Kolaborasi dan pertukaran pengetahuan dinilai penting agar pengembangan geopark memberikan manfaat lebih luas.

Atsuko mengusulkan adanya kerja sama antara Global Geopark UNESCO di berbagai negara. Ia menyebut pengalaman pengelolaan geopark di China dan Jepang dapat menjadi bagian dari kolaborasi tersebut.

Menurutnya, kolaborasi bisa diwujudkan melalui festival, kegiatan promosi bersama, pertukaran pengetahuan maupun program lainnya yang memperkenalkan Global Geopark kepada masyarakat dunia.

“Kami ingin memberikan saran untuk lebih memperkuat kolaborasi antar-Global Geopark UNESCO. Mungkin ke depan bisa dibuat acara atau kegiatan bersama untuk lebih banyak mempromosikan Global Geopark,” imbuh Atsuko.

Tidak hanya di tingkat internasional, kolaborasi juga dinilai penting dibangun di dalam Raja Ampat sendiri.

Wilayah Raja Ampat memiliki geosite yang luas dan tersebar di sejumlah pulau. Kondisi geografis tersebut, kata Atsuko, memang menjadi tantangan. Namun, pada saat yang sama bisa menjadi peluang untuk membangun jaringan pembelajaran antarmasyarakat.

Masyarakat di satu desa yang memiliki geosite dapat bertukar pengalaman dengan masyarakat di desa lain mengenai cara menjaga, mengelola dan mengembangkan potensi geosite masing-masing.

“Kolaborasi dan belajar bersama antara masyarakat di desa A dengan desa D yang memiliki geosite akan sangat baik untuk ke depannya,” tuturnya.

Sementara itu, Evaluator UNESCO Global Geopark asal China Chen Fang mendorong pemerintah dan pengelola geopark membuka ruang yang lebih besar bagi para ilmuwan untuk melakukan penelitian di Raja Ampat.

Menurut dia, penelitian tidak hanya diperlukan untuk memperkuat pengetahuan tentang geologi, tetapi juga untuk menggali potensi lingkungan, biodiversitas, budaya dan kearifan lokal.

Chen Fang berharap ilmuwan dari Raja Ampat, tingkat nasional hingga internasional dapat lebih banyak dilibatkan.

“Bisa diundang banyak ilmuwan, baik dari Raja Ampat, nasional maupun internasional, untuk melakukan penelitian tentang potensi-potensi yang ada di Raja Ampat,” imbuhnya.

Hasil penelitian tersebut dinilai dapat memperkuat promosi Raja Ampat sekaligus membuka peluang pengembangan wisata berbasis pengetahuan.

Dalam evaluasinya, kedua Evaluator mengaku terkesan dengan kondisi sejumlah geosite yang dinilai bersih serta karakter masyarakat yang ramah.

Mereka menyoroti kearifan lokal masyarakat, salah satunya praktik Sasi sebagai kekuatan budaya yang memiliki nilai penting dalam pengelolaan SDA. Kearifan lokal tersebut dinilai menjadi identitas yang harus dipertahankan di tengah geliat pariwisata Raja Ampat.

“Desa-desa tertentu yang kami kunjungi memiliki kearifan lokal seperti Sasi. Itu sangat unik dan kami sangat menghargainya,” akuinya.

Keindahan Raja Ampat sudah menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Tantangannya kini adalah bagaimana memastikan pengembangan pariwisata tidak menghilangkan nilai lingkungan dan budaya yang justru menjadi kekuatan utama kawasan tersebut.

Mereka menilai pengelolaan Global Geopark Raja Ampat tidak dapat dibebankan hanya kepada Pemerintah daerah atau pengelola geopark.

Dengan wilayah yang sangat luas dan karakter geografis yang tersebar, diperlukan keterlibatan lintas sektor, termasuk kementerian, lembaga, akademisi, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

“Pengelolaan geopark ini perlu melibatkan berbagai kementerian dan lembaga supaya bisa lebih maju lagi. Ini bukan sesuatu yang mudah karena wilayahnya sangat luas,” dorongnya.

Masukan evaluator tersebut menjadi catatan penting bagi Raja Ampat. Sebab, mempertahankan dan mengembangkan Global Geopark bukan sekadar menjaga status internasional, tetapi memastikan pengelolaan kawasan benar-benar mampu menjaga alam, merawat budaya dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Dengan begitu, Raja Ampat tidak berhenti sebagai destinasi wisata dunia, tetapi berkembang sebagai ruang pembelajaran, penelitian dan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

KENN