Komjen Waterpauw: Tugas Polri Dorong Organsasi Keagamaan Tangkal Isu Radikalisme

WhatsApp Image 2021 06 13 at 09.14.30
Komjen Pol. Paulus Waterpauw saat memberikan materi pada kegiatan Grand Opening Study Syawal Motivation Trainning (SSMT) di Pondok Pesantren Tahtidz Al Quran dan Hadits Nuu War Bekasi, Sabtu (12/6/2021). Foto: Humas Kabaintelkam Polri

Koreri.com, Bekasi – Kabaintelkam Polri, Komjen Pol. Paulus Waterpauw, mengatakan Kepolisian ditugaskan untuk membangun kerjasama dengan organisasi keagamaan, mendorong kegiatan keagamaan, menangkal isu isu radikalisme.

Hal ini disampaikan Komjen Pol. Paulus Waterpauw saat jadi pemateri pada Grand Opening Study Syawal Motivation Trainning (SSMT) di Pondok Pesantren Tahtidz Al Quran dan Hadits Nuu War Bekasi, Sabtu (12/6/2021).

Grand Opening SSMT dengan tema “Membangun sumber daya manusia yang berlandaskan Pancasila untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Papua yang produktif” dihadiri Ambasador Freddy Numberi (Ketua Umum Forsemi Papua), Ust. Muhammad Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan (Pimpinan Ponpes NUU WAAR (AFKN)), Jhon Kabei (Tokoh Senior Papua), Nick Messet (Mantan Menlu OPM), dan Tokoh Milenial Papua serta 200 santri dan santriwati.

Pimpinan Ponpes NUU WAAR AFKN, Ust. Fadhlan Garamatan, memberikan apresiasi atas kehadiran Kabaintelkam Polri sebagai pemateri dalam kegiatan grand opening SSMT.

“Perjuangan para narasumber yang hadir untuk bangsa dan negara ini sangat luar biasa, semoga cahaya kesuksesan terpancar kepada santri/santriwati Ponpes NUU WAAR oleh karena itu mari kita dengarkan nasehat yang di sampaikan,” katanya.

Kabaintelkam Polri, Komjen Paulus Waterpauw, mengatakan pemaknaan Pancasila sangat dalam karena merupakan pondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta menjadi pedoman hidup, pandangan hidup, sumber hukum dan cita cita bangsa.

Satu tungku tiga batu, kata Kabaintelkam, merupakan bentuk kehidupan antar umat beragama di Papua yang dibangun di Fakfak, berkembangnya teknologi yang membesar-besarkan hal yang kecil hingga menjadi konflik besar dan kesalahan doktrin menjadikan orang menjadi radikal.

Menurutnya, anak-anak santri-santriwati bisa berada disini karena Indonesia sedang aman dan damai, coba kita lihat di timur tengah yang sedang mengalami kekacauan dan peperangan. Bencana dan konflik membuat kita tidak bisa hidup aman dan damai.

“Kita harus bersyukur dan beribadah kepada Allah SWT, kita lihat negara Suriah hancur karena adanya kelompok kelompok yang ingin menguasai negara dengan membenturkan konflik antar suku, golongan maupun agama,” kata Komjen Paulus Waterpauw.

Oleh karena itu, ujar Waterpauw, jangan sia-siakan harapan orang tua, dengarkan nasehat guru dan senior karena anak yang dengar dengaran nasehat maka di sayang oleh Allah SWT.

“Anak adalah harapan orang tua meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu dan berhasil dalam mengenyam pendidikan,” pesanya.

Sementara itu, Ambasador Freddy Numberi, mengaku ini adalah pengalaman pertama saat menjadi pembicara di pesantren yang biasanya menjadi pembicara di luar negeri, para pendiri bangsa yang hebat sehingga bisa menyatukan dari segala perbedaan baik suku, bahasa maupun agama yang dibalut dalam Pancasila.

“Kita harus solid dalam berideologi Pancasila antar suku bangsa yang tersebat di nusantara ini untuk memajukan bangsa Indonesia. ingat pesan Presiden Soekarno kita boleh berbeda beda tetapi harus tetap bersatu- tetap semangat dalam belajar dan tetap menjaga Pancasila karena tanpa landasan Pancasila kita bagaikan di kapal yang terombang ambing di lautan,” kata Numberi

RED