Koreri.com, Biak – Direktorat Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi menggelar Workshop Penguatan Layanan Literasi pada Satuan Pendidikan Non formal (SPNF) Sanggar Kegiatan belajar (SKB) Biak bertempat di aula SKB, Senin (21/8/2023).
Peserta kegiatan ini adalah Pamong/Tutor/Pengelola TBM SKB dan Pengelola TBM di Luar SKB dan Komunitas Literasi dan beberapa peserta lainnya.
Kepala SPNF-SKB Biak Margaretha Singgamui, S.Pd mengatakan, SKB adalah salah satu satuan pendidikan nonformal (SPNF) yang menjadi tulang punggung pelaksanaan program dan layanan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia.
“Program dan layanan yang dimaksud salah satunya menyasar pada pengembangan 6 literasi dasar abad 21, yang meliputi literasi baca tulis, numerasi, sains, teknologi informasi dan komunikasi, finansial serta budaya dan kewargaan,” ungkapnya.
Menurut Margaretha, program yang terkait dengan literasi adalah pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca.
Pada praktiknya program tersebut menjadi layanan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), sebagai salah satu layanan yang ada di SKB.
“Adapun tujuan hadirnya TBM di SKB adalah untuk membina dan mengembangkan remaja dan orang dewasa (usia 15 tahun ke atas) untuk memahami literasi, menyenangi ilmu pengetahuan dan teknologi dan dapat memecahkan permasalahan di masyarakat dengan memanfaatkan bahan bacaan baik dalam bentuk cetak atau digital. Selain memberikan layanan membaca, pada perkembangannya, TBM di SKB diharapkan dapat menghadirkan ragam pembelajaran literasi melalui kegiatan kreatif yang memungkinkan SKB benar-benar berfungsi sebagai pusat pembelajaran yang hadir di tengah-tengah masyarakat,” katanya.
Sebagai bentuk optimalisasi fungsi keberadaan TBM, dalam hal ini Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, menyusun berbagai formula kegiatan.
Salah satunya melalui kegiatan Pendampingan TBM di SKB. Pelaksanaan pendampingan dilakukan dengan cara menggandeng pegiat literasi yang berasal dari Pengurus Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM), untuk mendampingi TBM di SKB dalam melakukan penataan keorganisasian, administrasi, mengajak diskusi terkait pola kolaborasi dalam gerakan literasi, mengidentifikasi jejaring dan mitra kegiatan, serta pengembangan ragam kegiatan terkait 6 kemampuan literasi dasar.
Nararia Putra, M.Pd yang adalah narasumber dalam pemberian materi menjelaskan, Literasi adalah proses pendidikan sepanjang hayat. Tingkat literasi masyarakat berkorelasi positif dengan kualitas hidup dan kemajuan bangsa.
Oleh karena itu, Gerakan Literasi Nasional (GLN) menjadi salah satu program prioritas yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
“Pada praktiknya, Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK), Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang memiliki salah satu fungsi dalam pengembangan pendidikan nonformal, secara konsisten terus berupaya melakukan berbagai program dan layanan pendidikan untuk membangun literasi masyarakat sebagai upaya mendukung Gerakan Literasi Nasional (GLN). Sebagai wujud konkret dari pelaksanaan penguatan literasi masyarakat, salah satunya dikemas melalui program pendampingan terhadap Taman Bacaan Masyarakat (TBM), yang berada di lembaga satuan pendidikan nonformal (SPNF), dalam hal ini di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB),” tuturnya
Diakui Margaretha, saat ini terdapat 438 satuan SPNF SKB di seluruh Indonesia. Setiap kabupaten/kota Dalam konteks penyelenggaraan pendidikan nonformal dan pemberdayaan masyarakat, peran SKB, khususnya dalam hal pendidikan kesetaraan, umumnya sudah memadai. Beberapa aspek bahkan telah mencapai tingkat yang baik.
“Namun dalam pengembangan literasi terutama pengelolaan buku-buku dan sumber belajar sebagai bagian pemberdayaan TBM sebagai suborgan SKB, belum menunjukkan capaian yang menggembirakan. Sejatinya, TBM di SKB mampu menjadi ruang bagi peningkatan kecakapan literasi masyarakat, khususnya untuk remaja dan orang dewasa,” imbuhnya.
Dikatakan juga, untuk menjawab tantangan tersebut, sejak tahun 2019 Direktorat PMPK telah melakukan pembinaan dan bimbingan teknis pengembangan TBM di SKB dengan nama “Pendampingan TBM di SKB”. Program yang sama kembali digulirkan pada tahun 2023. Sebanyak 12 SKB mendapat pendampingan dari para penggiat literasi yang ditunjuk oleh Direktorat PMPK,” bebernya.
Diharapkan, melalui program ini TBM di SKB mampu berinovasi dalam menyelenggarakan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat termasuk pengelolaan TBM sebagai ruang gerakan literasi masyarakat di tengah situasi pandemi dan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Pada akhirnya, perubahan tata nilai dan pemahaman tentang literasi di lingkungan SKB diharapkan dapat menular ke satuan PNF lainnya seperti PKBM, Rumah Pintar, Kelompok Belajar, dan satuan sejenis lainnya.
Sementara itu Dharma yang juga Salah satu narasumber menjelaskan, tujuan pendampingan dan Workshop TBM di SKB ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pengelola SKB dan pengelola TBM tentang urgensi literasi untuk pemberdayaan masyarakat, Membentuk kepengurusan TBM di SKB yang aktif dan mumpuni, Membimbing pengelolaan administrasi, buku, dan sarana prasarana TBM.
“Membina hubungan kerjasama/kolaborasi dengan pemegang kebijakan dan organisasi lain untuk meningkatkan keaktifan TBM dan pemberdayaan masyarakat, membuat Rencana Aksi pengembangan layanan TBM di SKB untuk satu tahun ke depan,” katanya.
Menurut Dharma, Yang hasil outputnya adalah untuk meningkatkan kesadaran Pengelola SKB dan Pengelola TBM tentang urgensi literasi untuk pemberdayaan masyarakat, terbentuknya kepengurusan TBM baru di SKB yang aktif juga dimulainya pengelolaan administrasi, buku, dan sarana prasarana TBM di SKB dan meningkatnya layanan aktif dan kolaborasi TBM di dalam dan di luar SKB dalam pemberdayaan masyarakat serta tersusunnya Rencana Aksi pengembangan layanan TBM di SKB untuk satu tahun ke depan.
HDK


























