Koreri.com, Ambon – Anggota DPRD Provinsi Maluku, Asis Sangkala, menyoroti kondisi kekeringan dan krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah.
Hal tersebut disampaikan Asis Sangkala setelah melakukan kunjungan reses di sejumlah titik di Kecamatan Pulau Banda, termasuk Pulau Ay dan Pulau Syahrir, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, kondisi kekeringan yang terjadi cukup berdampak terhadap kehidupan masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan air untuk mandi, mencuci, hingga kebutuhan konsumsi sehari-hari.
“Saya sudah melakukan reses di beberapa titik di Kabupaten Maluku Tengah, khususnya di Kecamatan Pulau Banda. Di sana saya melihat beberapa lokasi mengalami kekeringan, terutama di Pulau Ay,” ujar Asis kepada media ini di ruang kerjanya, Senin (21/9/2026).
Ia menjelaskan, salah satu persoalan yang ditemukan di Pulau Ay adalah kondisi embung yang mengalami kerusakan dan sudah miring.
Padahal, embung tersebut menjadi salah satu sumber penampungan air hujan yang sangat dibutuhkan masyarakat ketika memasuki musim kekeringan.
Kondisi embung yang rusak, ditambah sedimentasi yang cukup tinggi, menyebabkan kapasitas tampungan air semakin berkurang. Bahkan, saat ini air di dalam embung hampir sepenuhnya mengering.
“Embung yang seharusnya menampung air hujan untuk kebutuhan masyarakat selama masa kekeringan sekarang sudah mengering dan hampir habis. Akibatnya, air tersebut tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk pengairan maupun kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, apalagi untuk minum,” jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, Asis bersama rombongan dalam momentum reses turut menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat di Pulau Ay dan Pulau Syahrir.
“Kekeringan ini sangat berdampak luas terhadap kebutuhan keseharian masyarakat. Karena itu, dalam momentum reses kami juga mendistribusikan air bersih bagi masyarakat di Pulau Ay maupun Pulau Syahrir,” katanya.
Minta Balai Wilayah Sungai Turun ke Pulau Ay
Asis berharap Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku segera turun langsung ke Pulau Ay untuk melihat kondisi embung tersebut secara menyeluruh.
Menurutnya, kerusakan fisik embung harus segera ditangani agar fasilitas tersebut kembali berfungsi dan dapat dimanfaatkan masyarakat, khususnya ketika terjadi musim kemarau atau kekeringan.
Selain kerusakan konstruksi, ia juga menyoroti sedimentasi yang sudah cukup parah. Lumpur yang menumpuk di dasar embung dinilai turut mengurangi daya tampung air.
“Saya berharap Balai Wilayah Sungai Maluku bisa turun mengecek kondisi embung yang ada di Pulau Ay agar kemudian bisa diperbaiki. Selain itu, embung tersebut juga sudah mengalami sedimentasi yang sangat tinggi. Lumpur sudah sangat tebal sehingga perlu dilakukan pengerukan,” tegasnya.
Asis juga berharap pemerintah daerah, baik pemerintah provinsi maupun instansi teknis terkait, dapat melihat langsung persoalan tersebut dan mencari solusi yang berkelanjutan.
Menurutnya, persoalan air bersih di wilayah kepulauan seperti Banda membutuhkan perhatian serius karena masyarakat sangat bergantung pada sumber air yang tersedia di wilayah masing-masing.
“Saya berharap ke depan pemerintah dan dinas terkait di tingkat provinsi maupun Balai Wilayah Sungai dapat melihat kondisi ini untuk kemudian membantu mencarikan solusi bagi masyarakat di sana,” pungkasnya.
JFL

























