Pasca Aksinya Dikecam Dunia, KKSB Lakukan Propaganda

Proses evakuasi belasan jasad korban aksi pembantaian keji KKSB di Puncak Kabo, Distrik Yigi, Nduga, Papua oleh aparat gabungan TNI - Polri usai berhasil menduduki dan menguasai kawasan tersebut
Proses evakuasi belasan jasad korban aksi pembantaian keji KKSB di Puncak Kabo, Distrik Yigi, Nduga, Papua oleh aparat gabungan TNI - Polri usai berhasil menduduki dan menguasai kawasan tersebut

Koreri.com, Jayapura (9/12) – Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di Papua kini berupaya melakukan propaganda.

Menyusul pemberitaan oleh beberapa media yang mengklaim menerima laporan dari kepala kampung di Yigi bahwa dalam proses evakuasi, pasukan TNI melakukan serangan udara dan serangan bom hingga mengakibatkan sejumlah warga sipil tewas.

Propaganda yang dilakukan KKSB tersebut diduga karena sorotan dunia atas aksi keji mereka terhadap warga sipil.

Pasalnya, berbagai kecaman dilontarkan sejumlah pemimpin dunia atas aksi pembataian keji terhadap puluhan pekerja PT. Istaka Karya di Lereng Puncak Kabo, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, hingga merengut nyawa belasan orang pada 2 Desember lalu.

Bahkan, korban tewas dimungkinkan masih akan bertambah menyusul belum ditemukan 4 orang lagi yang hingga saat ini belum diketahui keberadaan dan nasib mereka.

“Jadi, segala pernyataan tentang jatuhnya korban sipil, serangan bom dan istilah zona tempur hanyalah upaya propaganda pihak KKSB untuk berusaha menggiring opini publik guna memojokkan TNI – Polri seolah-olah telah melakukan tindakan pelanggaran HAM. Padahal mereka yang telah membantai puluhan orang warga sipil yang tidak berdosa seakan-akan bukan suatu kesalahan,” tegas Kapendam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf. Muhammad Aidi dalam rilis pernyataan yang diterima Koreri.com, Minggu (9/12/2018).

Kapendam sekali lagi menegaskan bahwa TNI tidak pernah menggunakan serangan bom. TNI hanya menggunakan senjata standar pasukan infantri yaitu senapan perorangan yang dibawa oleh masing-masing prajurit.

“Media dan warga juga bisa melihat bahwa alutsista yang digunakan TNI hanya heli angkut jenis bell dan MI-17. Tidak ada heli serang apalagi pesawat tempur atau pesawat pengebom sebagaimana pernyataan KKSB,” tegasnya.

Selain itu juga, TNI dan Polri hingga saat ini belum pernah melakukan serangan.

“Malah sebaliknya pada saat melaksanakan upaya evakuasi justru KKSB yang menyerang tim evakusi sehingga terjadi kontak tembak dan mengakibatkan satu orang anggota Brimob menderita luka tembak,” bebernya.

Kapendam juga menggambarkan terkait lokasi pembantaian di bukit Puncak Kabo adalah kawasan hutan yang berjarak 4 – 5 km dari pinggir kampung terdekat.

“Jadi bila ternyata ada laporan telah jatuh korban akibat kontak tembak tersebut maka dapat dianalisa bahwa korbannya bukan warga sipil murni tapi mungkin saja mereka adalah bagian pelaku yang telah melaksanakan pembantaian,” tandasnya.

Kapendam pada kesempatan itu juga menanggapi pernyataan Sabby Sambon yang mengaku sebagai juru bicara KKSB agar TNI bertempur secara benar dan jangan bertempur diluar zona tempur yang sudah ditentukan.

KKSB dalam pernyataannya, mengklaim bahwa mereka telah menentukan zona tempur di kawasan Habema sampai dengan Mbua. Dan melarang TNI bertempur di Yigi atau Mbua karena sudah di luar zona tempur.

“Itu hanya klaim sepihak karena tidak pernah ada perjanjian antara TNI dan KKSB tentang zona tempur dimaksud,” bantahnya.

Sebaliknya, justru KKSB telah melakukan pembantaian di bukit Puncak Kabo, Distrik Yigi dan melakukan penyerangan Pos TNI di Mbua.

Bahkan, KKSB telah melakukan penyerangan terhadap pasukan gabungan TNI-Polri yang sedang melakukan upaya evakuasi terhadap korban baik di TKP puncak Kabo maupun di sepanjang jalur evakuasi Yigi – Mbua.

“Itu artinya mereka sangat tidak konsisten terhadap pernyataannya sendiri,” kecamnya.

Kapendam menambahkan, cara bertempur sistem gerilya tidak mengenal adanya zona tempur.

“Tapi di mana pasukan TNI bertemu dengan KKSB maka disitulah zona tempurnya,” tukasnya.

VDM