Ricky Ham Pagawak Dikukuhkan Jadi Anak Negeri Tabi

WhatsApp Image 2021 11 24 at 06.50.09
Proses pengukuhan Ricky Ham Pagawak sebagai anak negeri tabi di para - para adat suku Ireeuw, Kampung Tobati, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Senin (22/11/2021) / Foto: Seo Balubun

Koreri.com, Jayapura – Bupati Memberamo Tengah, Ricky Ham Pagawak dikukuhkan sebagai anak negeri Tabi secara adat di para-para adat Ireeuw dan disaksikan langsung oleh Ondoafi dan kepala suku yang ada Kampung Tobati, Senin (22/11/2021).

Dalam prosesi adat, Ricky Ham Pagawak diberikan noken dari ondoafi kampung tobati sebagai tanda bahwa RHP sudah menjadi anak negeri tabi.

Setelah dikukuhkan, selanjutnya RHP melantik tim relawan tiga wilayah adat Tabi, Saireri dan Anim Ha yang siap kerja menuju perhelatan pilgub Papua 2024 di pantai wisata Hamadi, Kelurahan Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.

Ketua tim relawan RHP, Jack Hababuk mengaku sangat bersyukur dimana Bupati Ricky Ham Pagawak sudah mau datang ke kampung Tobati.

“Anak Tabi artinya kami sudah menerima sodara, bapak terkasih Ricky Ham Pagawak sebagai anak adat Tabi dan telah melantik relawan Tabi, Saireri dan Anim Ha untuk kami mendukung penuh,” kata Jack kepada wartawan usai pelantiakn relawan.

“Artinya tabu peperangan kami sudah tabu selanjutnya kami akan berperang sebagai anak Papua, anak tabi anak port numbay kami berdiri untuk satu hati satu pikiran untuk mendukung bapak RHP sebagai salah satu kandidat Gubernur Papua 2024-2029 dan itu sudah menjadi komitmen kami,” ujarnya.

Menurutnya, sosok RHP adalah orang papua yang berkualitas dan mempunyai dedikasi, pengorbanan dan loyalitas yang tinggi kepada semua orang Papua. “Catatan penting juga beliau (RHP) banyak memperhatikan orang Papua dan rumah ibadah itu menjadi kunci utama,” kata Jack.

Dirinya sangat yakin 100 persen hasil sudah membuktikan, artinya semua sudah diberikan tinggal kita dan beliau sudah menabur sekarang kital siap memanen proses itu akan kami lewati dengan tim RHP yang sudah ada bahkan kami yang tadi baru dikukuhkan.

“Kalau kita bicara Tabi itu kampung Tobati itu Tabi artinya di belakang saya sudah ada tokoh-tokoh adat, Ondoafi dan kepala sudah sudah memberikan restu dipara-para adat. Artinya ini anak kami kami sudah merestui dia sebagai pemimpin Papua. Tinggal kita bekerja untuk mewujudkan itu semua,” tukasnya.

Bupati Mamberamo Tengah, Ricky Ham Pagawak, berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan karena sesuatu yang tidak dipikirkan dan tidak direncanakan tetapi kalau Tuhan sudah atur maka itu yang terjadi.

Dikatakan, Papua ada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sebagai pejabat pemerintah di dalam wilayah ini merasa punya tanggung jawab dan tidak melihat asal suku, agama tapi hari ini Tuhan pake kita anak-anak papua yang pimpin Papua.

“Kalau Jemaat yang datang minta bantu saya kira kalau ada berkat ya apa salahnya untuk kita bantu. Itu bukti bahwa kita diberkati dan kita harus memberkati orang,” kata Bupati RHP.

“Saya juga kaget karena orang – orang tua di Tabi, Tobati dan Enggros ini mereka pemilik hak ulayat ada juga dari Kayo Pulo serta beberapa suku yang ada disini. Tuhan menempatkan mereka untuk menerima injil pertama pemerintah pertama lewat jalur ini,” tegasnya.

Sehingga jikalau dirinya diterima secara adat sebagai anak adat Tobati dan Enggros itu tidak salah.

“Karena saya harus mulai perjuangan dari mana Injil itu ada dan juga dimulai dari Pemerintahan Belanda, Jepang dan Indonesia semua dimulai dari wilayah ini. Untuk mau menjadi pemimpin Papua harus dimulai dari tempat bersejarah.

“Kalau kita menghargai sejarah kita tahu sejarah maka kita akan menjadi pemimpin yang besar. Sehingga saya berikan apresiasi kepada orang-orang tua lebih khusus Ondoafi Tobati laut dan semua tua-tua yang ada mereka telah mengukuhkan saya sebagai anak adat,”ujarnya.

Untuk itu, dirinya merespon dan terima adat harus anak-anak Papua. “Jangan orang dari Jakarta baru dorang kasih adat sembarang. Nanti Menteri ini datang kasih pakai adat tahu nenek moyangnya ka. Jadi kalau hari ini Bapa – bapa ondoafi dan kepala suku dari Tobati berikan gelar anak adat kepada saya ya, itu baru betul,” singgungnya.

“Kalau kaka Tomi Mano ke Mamberamo Tengah lagi nanti saya suruh mereka kasih gelar Adat. Dan itu bukti bahwa kita saling mendukung sebagai sesama anak Papua,” sambungnya.

Nanti ada orang dari luar datang tidak ada hubungan keluarga kulit dan rambut beda baru kasih pakaian adat itu berarti tidak tau adat.

“Jadi pakaian adat itu untuk anak-anak Papua, menurut saya mungkin mereka yang ada diwilayah tabi khususnya di Tobati-Enggros mereka yang tahu adat menurun saya dan bukan orang lain,” jelas RHP.