Fokus  

W20, Bentuk Perhatian Negara Untuk Perempuan,Anak dan Disabilitas

Konferensi pers Pj Gubernur Papua Barat dengan Ketua Umum KOWALI di Manokwari,Rabu (8/6/2007)

Koreri.com, Manokwari– Pelaksanaan Women Twenty (W20) di Kabupaten Manokwari, Ibukota Provinsi Papua Barat selama tiga hari membawa semangat positif bagi kaum perempuan, anak dan penyandang disabilitas.

Momen yang menciptakan sejarah, karena event setingkat internasional pemerintah pusat memilih Kabupaten Manokwari sebagai tempat pelaksanaan dua kegiatan side Women twenty dan Youth twenty.

Penjabat Gubernur Papua Barat, Komjen Pol (Purn) Drs.Paulus Waterpauw.M.Si sempat merasa terharu karena diberikan kepercayaan oleh negara untuk melaksanan even  internasional yakni W20 dan Y20 di Manokwari.

“Terimakasih kepada Negara yang telah mempercayakan kami Papua Barat, negeri di ujung timur Indonesia untuk melaksanakan kegiatan bertaraf internasional,” ungkap Paulus Waterpauw saat menggelar konferensi pers di Press Room W20 Kantor Gubernur Papua Barat, Selasa (8/6/2022).

Sementara, Pj Gubernur Waterpauw menyampaikan sejumlah hal yang berkaitan dengan perempuan di Papua Barat, dan hal- hal apa saja yang sudah di lakukan oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat, di mana saat ini jumlah ASN  perempuan pada pemerintah hampir seimbang dengan laki- laki, kendati demikian peran perempuan belum merata secara baik.

Eks Kabaintelkam Polri ini menegaskan bahwa pihaknya siap melaksanakan semaksimal mungkin rekomendasi yang diputuskan dalam W20 nanti.

“Jadi kedepan, hal-hal yang berkaitan dengan disabilitas dan harapan hidup Kaum Perempuan dan anak,”ujarnya

Ketua Umum KOWANI  Dr. Giwo mengatakan, meskipun Papua Barat tuan rumah, namun dalam delegasi W20 ada para perempuan dari seluruh Indonesia yang nantinya akan direkomendasikan ke G-20 di Bali pada November mendatang.

“Kami memberikan apresiasi dan ucapan yang tak terhingga kepada Gubernur selaku pimpinan daerah di Papua Barat yang memberikan fasilitasi yang sangat baik sehingga acara side event W20 yang ke-4 khususnya dengan tema perempuan pedesaan dan perempuan yang berkebutuhan khusus dapat berjalan dengan baik,” katanya.

Dalam side event ini dihadiri 20 negara sebagai  peserta dari G-20, dimana mereka selain  membicarakan mengenai topik wanita pedesaan dan  wanita disabilitas, juga melihat kekayaan alam yang dimiliki Papua Barat.

“Setidaknya menambah suatu nilai yang sangat berharga bukan kepada perempuan Indonesia, tetapi juga kepada wilayah Papua Barat,” ungkapnya.

Menurut Dr. Giwo sudah banyak peraturan, kebijakan khusus yang dikeluarkan bagi kaum perempuan pedesaan, namun pada kenyataannya implementasinya masih jauh dari yang diharapkan.

“Tentunya ada sinergi, kerjasama yang baik bukan hanya dari pemerintah saja yang melaksanakan, tapi sinergi antar kementerian, NJO juga mendukung dan ikut juga mengimplementasikan, dimana tadi pada waktu acara kita sudah bincang-bincang untuk rencana tindak lanjutnya,” jelasnya.

Diharapkan  tindak lanjutnya  bukan pada momentum saat event sesaat yang bisa menguat begitu saja, tetapi diharapkan memiliki landasan yang kuat untuk dapat benar-benar dikerjakan dengan menghasilkan suatu karya yang benar-benar nyata, kemudian ada perbedaan yang signifikan dari sebelum pelaksanaan side event  W20.

“Kita bukan hanya bicara mengenai perempuan pedesaan, disabilitas, namun kita juga berbicara mengenai kesetaraan gender di masyarakat, terutama kaum perempuan. Dimana itu sudah kita rasakan baik itu di publik, politik, dunia kerja,  ekonomi itu sudah ada perbedaan. Bagaimana kita mau implementasikan dari aturan-aturan  yang sudah kita bicarakan di dalam side event ini khususnya untuk perempuan disabilitas dan perempuan pedesaan, tentunya perlu dengan perjuangan yang kuat, sedangkan kesetaraan gender saja kita masih mengalami ketimpangan. Ini hal yang tentunya kita harus terus melakukan sosialisasi, kita gaungkan kita edukasika  dan sosilaisasikan,” pungkasnya.

KENN