Bangun Tanah Papua, Buang Mental “Pengemis” dan “Makan Puji”

makan Puji

Koreri.com, Jakarta – Kondisi kronis dalam kehidupan sosial dan pemerintahan kita bukan semata kemiskinan, korupsi, atau lemahnya sistem hukum, melainkan juga masalah “mentalitas”.

Ulasan Redaksi Koreri kali ini adalah, kolaborasi maut “mental pengemis” dan “makan puji”. Keduanya mungkin terlihat berbeda, tetapi sebenarnya hidup dalam “ekosistem busuk” yang sama.

Apa Itu “Mental Pengemis”?

Mental pengemis pada dasarnya bukan mengenai kondisi ekonomi, melainkan pola pikir.

Seseorang bisa berkecukupan secara materi, namun tetap memiliki mental pengemis.

Ciri-cirinya, selalu merasa berhak menerima tanpa mau bertanggung jawab, lebih suka meminta daripada berusaha, mengharapkan belas kasihan, bukan keadilan dan menilai pemimpin dari “apa yang dibagi”, bukan “apa yang dibangun.”

Dalam masyarakat dengan mental seperti ini, bantuan sosial sering dipahami sebagai hadiah, bukan sebagai alat pemberdayaan.

Kritik dianggap tidak tahu diri, sementara pujian pada penguasa dipandang sebagai strategi bertahan hidup.

Mental pengemis membuat masyarakat takut kehilangan pemberian, sehingga rela kehilangan suara (menutupi masalah, red.) dan martabat.

Definisi Bebas “Makan Puji”

Di sisi lain, mentalitas “makan puji (haus pujian, red.)” adalah kondisi psikologis di mana seseorang memiliki kebutuhan berlebihan untuk dikagumi dan mendapat pengakuan atau validasi dari orang lain dan biasanya melekat erat pada oknum pejabat atau pengambil kebijakan.

Mereka yang “makan puji” tidak bekerja untuk hasil jangka panjang, melainkan untuk tepuk tangan sesaat.

Pejabat seperti ini tidak membutuhkan rakyat yang kuat, mandiri serta kritis, namun sebaliknya membutuhkan rakyat yang mudah terkesan, mudah dipuaskan dengan simbol, spanduk, bantuan dadakan, dan pidato penuh janji.

Pujian bagaikan candu, semakin banyak pujian, semakin kehilangan kepekaan terhadap realitas kehidupan di sekitarnya.

Simbiosis Mutualisma yang Merusak

“Mental pengemis” dan “makan puji” saling menghidupi yang pada akhirnya merusak kebijakan publik dan mengubah segala sesuatunya menjadi transaksi emosional, bukan keputusan rasional.

Jika ini terjadi di Tanah Papua, maka pembangunan seutuhnya tidak lagi dikelola dengan visi-misi yang jelas, melainkan dengan like, keriuhan, dan pencitraan sesaat.

Situasi ini seringkali menyebabkan hilangnya ruang kritik yang berimbas pada matinya ruang pertanyaan. Apakah kebijakan ini benar, apakah ini adil, apakah ini berkelanjutan?

Dampaknya bagi Tanah Papua

Ketika mentalitas ini mengakar di Tanah papua, dampaknya menyebabkan korupsi sulit diberantas, rakyat kehilangan daya juang, masyarakat berhenti menuntut perbaikan sistem, cukup berharap bantuan sesaat.

Akibatnya, pemimpin besar sulit lahir karena sejatinya pemimpin besar biasanya lahir dari kritik dan bukan pujian kosong semata.

Pada akhirnya, Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi tidak runtuh karena kurangnya bantuan atau pujian, tetapi karena hilangnya mentalitas.

Selama “mental pengemis” dan “makan puji” terus dipelihara, kita akan terus berjalan dalam sebuah lingkaran anti-produktif dan anti kemajuan.

Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan cara pikir yang merubah mental pengemis menjadi “kita bisa, kita berdaya” dan “makan puji” menjadi “kita mengawasi dan menjaga”.

 

Konten Khusus – Redaksi Koreri