Balada Pilu Membangun Ekosistem Bisnis Yang Kuat di Tanah Papua

ekosistem bisnis
Foto: Ilustrasi

Koreri.com, Jakarta – Di Tanah Emas, kita paham satu kebenaran pahit yang hakiki.

Tidak ada izin yang turun tanpa “uang rokok”, tidak ada proyek yang jalan tanpa “koordinasi”, dan tidak ada bisnis yang tumbuh tanpa “orang dalam”.

Bagi pelaku bisnis, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) adalah budaya dan rutinitas yang mengalahkan akal sehat.

Pelaku bisnis dihadapkan pada ritual persembahan yang melampaui praktek persembahan di Rumah Tuhan.

Mereka (pelaku bisnis, red.) bukan martir, bukan juga pahlawan yang keuntungan proyek-proyeknya, harus selalu dibagi dengan rasa takut dan ketidakberdayaan.

Di pojok jalan, sebelah kantor pemerintah urusan perijinan, seorang kenalan Yaklep berbisik, “Kalau mau aman dan lancar, saya kenalkan ke “orang kuat”. Pasti urusan lancar bro.”

Dalam hatinya Yaklep bertanya, siapa lagi “orang kuat” ini? Bikin diri macam juru selamat, jangan-jangan “pemakan segala”.

Yaklep tersenyum sinis, menolak secara halus.

Ia (Yaklep, red.) berpikir, jika bisnisnya bergantung pada orang kuat, maka si pemilik sesungguhnya dari bisnis yang Ia bangun secara susah payah, sudah pasti bukan dirinya tetapi “orang kuat” itulah si pemilik sebenarnya.

Memang menyedihkan, jika sering kalah proyek karena tak mau setor “jatah preman” dan
bosan dimintai terus “uang koordinasi”.

Hanya ada satu pertanyaan yang penting, “kalau kita (semua pengusaha, red.) main bersih, tapi bareng-bareng, apa kita masih tetap loyo melawan ketidak-adilan ini?”

Pada akhirnya, sejujurnya KKN takut pada “keterbukaan secara kolektif”.

Tetapkan standar bersama, perbaiki sistem, pantau terus dan bersuara alias berteriak sekuat-kuatnya agar bumi, surga dan neraka ikut mendengar!

Satu diperas, semua tahu. Satu diserang, semua berteriak!

Bahkan, tra salah moo…kalau buat WA Grup dengan nama “Siapa Nama Abdi Negara Terkorup di Kota “itu”, jangan lupa share buktinya di grup agar tidak jadi fitnah ya!

Percaya atau tidak, satu kota akan tahu siapa malaikat-malaikat gelap itu dan mereka akan dihindari dan terisolasi secara sosial. Untuk kebenaran yang hakiki, lakukan saja! Takut buat?

Para pengusaha, kalian harus tertib administrasi, simpan arsip karena itu semua adalah dokumentasi penting untuk persiapan “perang”.

Oknum abdi negara yang busuk, sudah pasti “tampias” oleh mereka yang profesional dan ekosistem kotor akan bertranformasi secara perlahan menjadi ekosistem yang sehat dan jernih.

Intinya, korupsi sulit bekerja di tempat yang terlalu banyak mata dan telinga.

Jika ingin akselerasi Pembangunan di Tanah Papua berjalan baik, bangun ekosistem bisnis yang sehat dan kuat karena dari sanalah, akan terbangun pusat praktek kerja aktual pencipta perputaran uang besar untuk daerah.

Akan lahir juga di eksosistem itu, pusat pembangunan manusia sesungguhnya, calon pekerja profesional yang hebat untuk masa depan.

Biarkan mereka berkompetisi disana untuk menjadi yang terbaik bagi “diri sendiri” secara sportif karena semakin banyak orang hebat, semakin kuat suatu daerah.

Bukankah Boaz Salossa berkompetisi dengan sesama striker Papua untuk menunjukkan siapa yang terhebat di bidangnya? Itu lumrah!

Kalau hanya untuk hebat di korupsi? Hai kalian….itu kriminal, bukan hebat. Itu jalan pintas bagi orang lemah untuk terlihat hebat!

Kata bijak berkata, “Janganlah kamu jadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.”

Ingat, STOP Normalisasi Kelakuan Busuk!

Akhirnya, kita koma dulu (stop sejenak, red.) dan lanjutkan cerita ini di artikel berikutnya.

 

Konten Khusus – Redaksi Koreri