Koreri.com, Timika – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika mulai mengembangkan program “Brand Kampung” sebagai strategi memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal di setiap wilayah kampung.
Program ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus membuka peluang pasar hingga tingkat internasional.
Bupati Mimika Johannes Rettob, mengatakan Pemerintah saat ini tengah melakukan pendataan dan inventarisasi potensi kampung secara menyeluruh. Setiap kampung didorong memiliki identitas ekonomi atau “brand” yang menjadi ciri khas unggulan.
“Setiap kampung nantinya punya kekhususan. Ada kampung yang fokus pada jeruk, ada yang kakao atau cokelat, dan ada juga yang berbasis hasil perikanan. Semua itu sedang kami data dan susun,” ujar Bupati Johannes Rettob dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Menurut dia, langkah awal yang dilakukan adalah penyusunan profil kampung berbasis potensi lokal.
Pada tahun sebelumnya, Pemkab Mimika telah menyusun profil untuk 10 kampung, dan pada tahun ini ditargetkan bertambah menjadi 30 kampung.
“Target kami, seluruh kampung di Mimika ke depan memiliki brand yang jelas, sehingga arah pembangunan lebih fokus dan berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat,” katanya.
Rettob menegaskan, tidak semua kampung memiliki potensi yang sama. Karena itu, pendekatan pembangunan dilakukan secara spesifik sesuai keunggulan masing-masing wilayah.
Setelah penetapan brand kampung, peran organisasi perangkat daerah (OPD) akan difokuskan pada penguatan sektor tersebut mulai dari produksi, pengolahan hingga pemasaran.
“Pemerintah daerah akan membantu dari sisi pemasaran. Bisa melalui pembelian langsung oleh Pemda, distribusi di dalam daerah, atau membuka akses pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Selain itu, Pemkab Mimika juga mulai menjalin kerja sama dengan pelaku UMKM serta perusahaan dari luar negeri, termasuk dari China, Hong Kong, dan Jepang untuk memperluas pasar ekspor.
Beberapa komoditas unggulan seperti kepiting dan udang bahkan disebut telah memiliki pasar ekspor yang siap menyerap hasil produksi masyarakat.
“Pasarnya sudah ada. Sekarang tinggal bagaimana kita meningkatkan produksi dan kualitas. Kita tidak bisa hanya bergantung pada hasil tangkapan, tetapi harus mulai mengembangkan budidaya,” ujarnya.
Melalui program ini, Pemkab Mimika juga menargetkan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor non-tambang, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya alam tertentu.
“Ke depan kita ingin ada sumber pendapatan baru dari sektor lain. Brand kampung ini menjadi salah satu strategi untuk mewujudkan itu,” kata Rettob.
Program “brand kampung” dinilai menjadi langkah konkret Pemkab Mimika dalam membangun ekonomi daerah yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal.
EHO
























