Keren ! Suzy Rettob Sulap Tikar Kamoro Jadi Gaun-Kemeja Modern

Bupati JR Istri Kenakan Busana Berbahan Tikar Khas Kamoro
Momen Ketua TP - PKK Mimika Suzana Suzy Herawati Rettob menghadirkan inovasi baru berupa rancangan busana berbahan dasar tikar khas Suku Kamoro di momen perayaan HUT ke 30 Tahun Kabupaten, Senin (12/10/2026) / Foto : Ist

Koreri.com, Timika — Kepedulian dalam mengangkat sekaligus melestarikan potensi budaya lokal masyarakat asli Mimika terus ditunjukkan Ketua Tim Penggerak PKK setempat Suzana Suzy Herawati Rettob.

Terbaru, ia menghadirkan inovasi baru berupa rancangan busana berbahan dasar tikar khas Suku Kamoro.

Dengan mengusung semangat ramah lingkungan, istri Bupati Mimika Johannes Rettob ini memadukan kekayaan tradisi masyarakat lokal dengan sentuhan modern untuk menghadirkan busana yang keren, unik, elegan, sekaligus bernilai ekonomi.

Karya yang dirancang khusus dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Kabupaten Mimika tahun ini menjadi salah satu bentuk promosi budaya yang langsung  menarik perhatian.

Tikar anyaman khas Kamoro yang selama ini dikenal sebagai bagian dari kerajinan tradisional masyarakat, khususnya mama-mama Kamoro, diolah menjadi berbagai produk fesyen, mulai dari gaun, kemeja, topi, bando atau hiasan kepala, tas, hingga sepatu.

Melalui kreativitasnya, Suzy Rettob ingin menunjukkan bahwa hasil kerajinan tangan masyarakat lokal tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk fesyen yang menarik dan mengikuti perkembangan zaman.

Ide tersebut lahir dari keinginannya sendiri untuk memberikan contoh nyata bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui tindakan sederhana, termasuk dengan mengenakan dan memperkenalkan hasil karya para pengrajin lokal dalam berbagai kegiatan resmi.

Bagi Suzy, menggunakan busana berbahan anyaman khas Kamoro bukan sekadar menghadirkan penampilan berbeda dalam perayaan HUT Mimika.

Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap keterampilan mama-mama Kamoro sekaligus upaya membuka peluang agar hasil kerajinan mereka semakin dikenal masyarakat luas.

“Melalui busana ini, saya ingin menunjukkan bahwa hasil anyaman mama-mama Kamoro bisa kita kembangkan menjadi sesuatu yang menarik, modern, dan memiliki nilai jual. Kita tidak hanya berbicara tentang pelestarian budaya, tetapi juga bagaimana membantu mempromosikan hasil karya mereka agar semakin dikenal dan diminati,” demikian pesan yang ingin disampaikan melalui rancangan tersebut.

Keunikan rancangan Suzy Rettob terletak pada keberaniannya memadukan unsur tradisional dengan desain modern. Tikar khas Kamoro yang memiliki nilai budaya dan identitas lokal diolah menjadi busana yang dapat dikenakan dalam acara resmi maupun kegiatan kenegaraan.

Bahan yang berasal dari alam dan keterampilan menganyam yang diwariskan secara turun-temurun menjadi kekuatan utama rancangan ini. Dengan sentuhan kreativitas, material tradisional tersebut dapat tampil dalam bentuk yang lebih beragam tanpa menghilangkan karakter khasnya.

Pesan ramah lingkungan juga menjadi bagian penting dari karya tersebut. Pemanfaatan bahan alami dan pengembangan produk kerajinan lokal menjadi alternatif untuk menghadirkan fesyen yang lebih dekat dengan alam sekaligus mengangkat potensi sumber daya yang tersedia di daerah.

Dalam momentum HUT Mimika, pendekatan ini memperlihatkan bahwa budaya tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk yang sama seperti dahulu. Tradisi dapat terus hidup dan berkembang ketika dipadukan dengan kreativitas serta kebutuhan masyarakat masa kini.

Penampilan Bupati Mimika, Johannes Rettob yang mengenakan kemeja dan topi dengan sentuhan anyaman khas Kamoro turut memperlihatkan bagaimana identitas budaya lokal dapat dihadirkan dalam busana resmi.

Sementara itu, rancangan gaun beserta aksesori berbahan anyaman menunjukkan bahwa kerajinan tradisional juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk fesyen yang lebih luas.

Suzy Rettob berharap karya tersebut dapat menjadi inspirasi bagi berbagai pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), PT Freeport Indonesia, BUMN, perusahaan swasta, hingga masyarakat umum untuk ikut menggunakan dan mempromosikan produk berbahan dasar kerajinan lokal.

Menurutnya, dukungan terhadap produk lokal tidak cukup hanya melalui kegiatan pameran atau promosi. Penggunaan secara langsung dalam berbagai kesempatan juga dapat menjadi bentuk dukungan nyata yang membantu memperkenalkan produk kepada masyarakat yang lebih luas.

Ketika hasil anyaman mama-mama Kamoro digunakan dalam acara resmi, kegiatan pemerintahan, maupun kegiatan perusahaan, produk tersebut memperoleh ruang promosi yang lebih besar. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat, memperluas pasar, dan membuka peluang ekonomi baru bagi para pengrajin.

Langkah tersebut sekaligus menjadi ajakan agar kekayaan budaya Mimika tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaga dan mewariskannya.

Tidak berhenti pada tikar khas Kamoro, Suzy Rettob juga berharap berbagai kerajinan tradisional lainnya, termasuk noken dan hasil anyaman mama-mama Papua, dapat dikembangkan melalui perpaduan desain tradisional dan modern.

Menurutnya, sentuhan modern dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kerajinan lokal kepada kelompok konsumen yang lebih beragam, terutama generasi muda dan pasar fesyen yang terus berkembang.

Dengan pengembangan desain yang tepat, produk anyaman tidak hanya dapat digunakan sebagai perlengkapan adat atau kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berpotensi menjadi produk fesyen, aksesori, dan cendera mata khas Mimika yang memiliki daya saing.

Harapan besarnya adalah agar keterampilan mama-mama pengrajin memperoleh apresiasi yang lebih luas, disertai peluang pemasaran yang semakin terbuka dan nilai ekonomi yang lebih baik.

Karya Suzy Rettob dalam perayaan HUT ke 30 Kabupaten Mimika pun menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Sebuah tikar yang lahir dari keterampilan tangan mama-mama Kamoro dapat menjelma menjadi gaun, kemeja, topi, hingga aksesori modern, sekaligus membawa pesan tentang identitas, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Dari Mimika, sebuah pesan sederhana disampaikan: mencintai budaya tidak hanya dengan melestarikannya, tetapi juga dengan menggunakannya, mengembangkannya, dan membantu karya para pengrajinnya menemukan tempat di pasar yang lebih luas.

TIM