Dari Lapangan Migas Tua Salawati Menuju Swasembada Energi Nasional

Lapangan Migas Salawati Siap Swasembada Nas
Persiapan sebelum proses pengeboran pada sumur SLW - F003 yang berada di RIG PDSI 11.2 dimulai / Foto : Suzan

Koreri.com, Sorong – Usia hanyalah angka bagi sebuah proses produksi yang berlangsung di lokasi pengeboran sumur penghasil minyak dan gas bumi (migas), Pulau Salawati, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya.

Meski merupakan lapangan migas tua (brownfiel) yang memiliki usia hampir 100 abad, lapangan migas Salawati yang dikelola PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PEP) Papua Field Zona 14 Regional 4 Indonesia Timur ini masih mampu menghasilkan minyak mentah dengan kapasitas jumlah produksi yang mampu melebihi target yang ditentukan.

Dalam proses pengeboran sumur, Pertamina EP bekerja sama dengan PT Pertamina Drilling Services Indonesia atau PDSI yang dikenal juga sebagai Pertamina Drilling, yaitu merupakan anak perusahaan PT Pertamina Hulu Energi di bawah Subholding Upstream Pertamina.

General manager Papua Field, Ardi mengatakan total ada 5 sumur yang dikelola Pertamina EP ketika ditemui di lokasi pengeboran dalam kegiatan media visit, Rabu (29/7/2026).

Lapangan Migas Salawati Siap Swasembada Nas2
Proses pengeboran sumur SLW – F003 yang berada di RIG PDSI 11.2 telah memasuki hari ke 35 dan direncanakan selesai pada 10 Agustus 2026 / Foto : Suzan

Dirincikan, sumur bor campaign yaitu SLW-C4X, SLW-E6X, SLW-F2X, SLW-F3X dan direncanakan sumur kelima yaitu SLW- C5X.

“Hasil produksi masing-masing sumur ini sebelumnya tidaklah mengecewakan karena berhasil melampui target yang direncanakan,” sambung Ardi.

Ia mencontohkan, sumur pertama atau sumur Charlie 4 yang sejak awal diperkirakan akan menghasilkan sekitar 500 barel minyak per hari.

“Ternyata mampu memproduksi sekitar 1.200 barel per hari,” beber Ardi.

Begitu juga dengan sumur kedua SLW-C4X yang menghasilkan sekitar 1.014 barel minyak per hari maupun sumur ketiga SLW-F2X yang rata-rata mencapai sekitar 623 barel per hari.

Lanjut Ardi, untuk proses pengeboran di lokasi sumur keempat, SLW – F003 yang berada di RIG PDSI 11.2 telah memasuki hari ke 35 dan direncanakan selesai pada 10 Agustus 2026 dengan target menghasilkan minyak mentah sekitar 350 barel per hari

Lapangan Migas Salawati Siap Swasembada Nas3
Hasil olahan di lapanga migas Salawati akan disalurkan melalui pipa ke Kilang RU VII Kasim yang memiliki kapasitas sarana penampung memadai / Foto : Suzan

Dia menambahkan pengeboran sumur-sumur di lapangan Salawati memiliki rata-rata kedalaman hingga mencapai 2000 meter atau 2 kilo dari permukaan tanah dengan durasi waktu yang bervariasi.

“Untuk per jam itu bisa sekitar 10 sampai 15 meter, jadi lumayan lama waktu yang diperlukan untuk pengeboran,” sambung Ardi.

Dijelaskan juga bahwa dari total seluruh produksi Pertamina EP, kontribusi Salawati untuk produksi migas mencapai 1.500 barel dari target 2.000 barel per hari atau sekitar 75 persen (3/4) dari total hasil produksi yang ada di wilayah Papua Barat Daya (PBD).

Kemudian dari hasil migas yang diperoleh, akan disalurkan ke Kilang RU VII Kasim yang memiliki kapasitas sarana penampung memadai.

Ardi Field Manager PT PEP Papua Field
Field Manager PT PEP Papua Field Ardi / Foto: Suzan

“Jadi semua produksi minyak di Salawati ini kita kirim ke Kilang RU VII Kasim dimana minyak mentah setibanya disana secara otomatis akan diolah menjadi produk turunan BBM yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat Papua,” urainya.

Selain itu produksi migas yang dilakukan, Pertamina EP tidak hanya difokuskan pada lapangan Salawati saja namun juga ada di Klamono dan Sele Linda yang juga memiliki prospek dan potensial yang besar.

Di Klamono, jelas Ardi, hasil yang diperoleh berupa sumber gas ditargetkan akan diproduksi pada 2027 mendatang.

“Sumur gas yang ada di lapangan Klamono itu bisa beroperasi, atau on stream sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dan dunia usaha terutama yang ada di wilayah Papua, tepatnya wilayah Papua Barat Daya,” jelasnya rinci.

Lapangan Migas Salawati Siap Swasembada Nas4
Objek Vital Nasional Salawati, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya / Foto : Suzan

Ardi berharap hasil produksi yang dicapai di Pulau Salawati, Klamono atau Sele Linda atau di wilayah lain di Papua tidak hanya minyak saja tapi ada produk lain yang terus berproduksi secara rutin.

“Jangan pergi dari Papua! Mari kita siapkan lagi program-program yang lain dengan harapan ini akan menambah hasil dari produksi migas secara nasional,” ajaknya.

Ardi berharap pula melalui pengeboran sumur minyak mentah di Pulau Salawati ini hasilnya dapat mencukupi kebutuhan energi lokal maupun nasional yang tentunya melalui proses berkesinambungan, terstruktur, terarah serta terukur demi mewujudkan swasembada energi untuk kebutuhan dalam negeri.

ZAN