Amdal Tambang Emas PT ABP di Teluk Wondama Disosialisasikan

Koreri.com, Wasior (4/2) – Tahapan berjalan sosialisasi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) segera membuka langkah awal proses pertambangan emas di Kabupaten Teluk Wondama oleh PT. Abisha Bumi Persada (ABP).

Seperti diketahui, sosialisasi dokumen Amdal tersebut telah dilakukan di Kampung Nanimori, Ambumi, Yerenusi dan Dusner di Distrik Kuri Wamesa, Kampung Wombu Distrik Naikere dan kampung Sendrawoy Distrik Rasiei.

Titus Mariai selaku tokoh masyarakat Kampung Nanimori, Minggu menyatakan bahwa masyarakat Kuri Wamesa, Teluk Wondama sangat mendukung beroperasinya PT. ABP yang akan melakukan penambangan emas di wilayah itu.

Namun, Ia juga mengingatkan bahwa pihak perusahaan yang memegang konsesi seluas 23.324 hektar dengan rencana produksi per tahun sebesar 800 ribu biji emas selama 15 tahun masa operasi itu harus selalu menjunjung tinggi hak-hak masyarakat adat yang tinggal di wilayah opersional perusahaan tersebut.

“Kami setuju PT Abisha jalan. Tapi kami minta hak masyarakat adat perlu dipastikan dulu agar masyarakat tidak susah di kemudian hari,” ujar Titus.

Perusahaan juga diharapkan bisa konsisten mematuhi kesepakatan bersama yang tertuang dalam dokumen Amdal dan “kami mohon perusahaan utamakan tenaga kerja dari kami masyarakat yang punya wilayah,” ujar tokoh Pemuda Kampung Yerenusi.

Beberapa pejabat setempat yang turut hadir dalam kegiatan sosialisasi Amdal itu antara lain Bupati Bernadus Imburi, Kapolres Teluk Wondama AKBP Mathias Krey beserta Danramil Wasior, Mayor Inf Andri Risnawan serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Provinsi Papua Barat, Rudolf E. Rumbino yang hadir mewakili Gubernur Papua Barat serta Direktur Utama PT ABP, Nolius Matahelumual.

Bupati Bernadus pada kesempatan itu menekankan semua tahapan terkait Amdal harus dilakukan secara baik dan benar serta meminta agar kehadiran perusahaan membawa manfaat yang besar secara ekonomi dan sosial bagi lapisan masyarakat di wilayahnya.

“Saya harap diatur dengan baik supaya perusahaan bisa hidup, masyarakat di sekitar juga bisa hidup. Harus dua-dua senang. Jangan perusahaan senang baru masyarakat susah. Tapi jangan masyarakat buat macam-macam sehingga perusahaan tidak bisa jalan,” kata Imburi.

MP-RR