Koreri.com, Jayapura – Hasil pemantauan BPS Provinsi Papua selama Oktober 2019 menunjukkan Kota Jayapura terjadi deflasi sebesar 0,35 persen.
Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Papua, Bambang Wahyu Ponco Aji menjelaskan berdasarkan inflasi month-month tercatat selama 5 bulan terakhir di Kota Jayapura mengalami fenomena deflasi secara terus-menerus.
“Jadi, faktor pemicu terjadi deflasi penurunan harga dengan besaran andil masing – masing cabe rawit -0,255 persen, tarif angkutan udara -0,233 persen, bawang merah -0,067 persen, bawang putih -0,057 persen, tomat sayur -0,026 persen, cabai merah -0,021 persen, tomat buah -0,014 persen, daging ayam ras -0,013 persen, daging sapi -0,013 persen dan sayur kubis sebesar -0,012 persen,” urainya dalam berita resmi statistik BPS Papua, Jumat (1/11/2019).
Secara umum, kata Bambang, deflasi didominasi oleh pengaruh penurunan harga pada transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang memberikan andil sebesar -0,23 persen serta kelompok bahan makanan sebesar -0,17 persen terhadap total deflasi di Kota Jayapura.
“Hal serupa juga terjadi di Merauke yang mengalami deflasi selama 4 bulan berturut – turut, dengan memperhatikan besaran capaian inflasi yoy di kedua kota tersebut BPS Papua menilai bahwa kondisi inflasi masih terkendali,” ujarnya.
Lebih lanjut, di Kota Jayapura perkembangan inflasi tahun berjalan hingga Oktober 2019 mencapai -0,91. Pencapaian ini lebih rendah dan terkendali dibandingkan Oktober 2018 yang sebesar 3,83 persen.
Secara umum mengingat besaran andil penyumbang deflasi di kedua kota tersebut di dominasi oleh kelompok bahan makanan maka Pemerintah perlu mengantisipasi terhadap gejolak harga di masa mendatang yang disebabkan oleh ketersediaan stok di pasar.
Namun demikian, pemerintah perlu mencermati lebih jauh terkait fenomena deflasi yang terjadi secara terus menerus.
“Diperlukan monitoring terhadap gejala kelesuan yang mungkin timbul pada para pelaku ekonomi untuk segera disukai dan diantisipasi segera,” pungkasnya.
VDM































