Alumni YPMAK Didorong Jadi Solusi Pengangguran di Mimika

Alumni YPMAK Jadi Solusi Pengangguran di Mimika
Momen giat workshop bertema Eksistensi Perkumpulan Alumni YPMAK dalam Menghadapi Dinamika, Tantangan, dan Peluang Ketenagakerjaan di Tanah Amungsa Bumi Kamoro, di Timika, Rabu (21/10/2026) / Foto : NUEL

Koreri.com, Timika – Perkumpulan Alumni Papeda–Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (PAPEDA–YPMAK) didorong mengambil peran strategis dalam menjawab persoalan ketenagakerjaan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat Amungme, Kamoro, dan lima suku kekerabatan lainnya di Kabupaten Mimika.

Dorongan tersebut mengemuka dalam workshop bertema Eksistensi Perkumpulan Alumni YPMAK dalam Menghadapi Dinamika, Tantangan, dan Peluang Ketenagakerjaan di Tanah Amungsa Bumi Kamoro, di Timika, Rabu (21/10/2026).

Ketua PAPEDA–YPMAK, Hilarius Dolame, mengatakan peningkatan kualitas SDM harus berjalan seiring dengan terbukanya kesempatan kerja.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan, tetapi belum mendapatkan pekerjaan.

“Jangan sampai kemampuan masyarakat terus meningkat, tetapi kesempatan kerja di lapangan justru terbatas. Kita harus memastikan bahwa masyarakat yang telah dipersiapkan benar-benar memperoleh kesempatan untuk bekerja,” ujarnya.

Ia menegaskan, persoalan tersebut membutuhkan pembenahan manajemen internal, pendataan alumni yang lebih terstruktur, serta koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), baik di tingkat Kabupaten Mimika maupun Provinsi Papua Tengah.

Hilarius berharap pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, dan organisasi alumni dapat memperkuat kerja sama agar program pengembangan SDM tidak berhenti pada pelatihan, tetapi benar-benar membuka akses terhadap lapangan kerja.

Sementara itu, Ketua Pengurus YPMAK, Dr. Leonardus Tumuka, mengingatkan bahwa para alumni memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan masyarakat, baik di wilayah pesisir, pegunungan, maupun kampung-kampung terpencil.

Ia menekankan pentingnya pendataan alumni secara menyeluruh agar informasi mengenai keberadaan, pekerjaan, dan potensi kontribusi mereka dapat diketahui dengan jelas. Dengan demikian, alumni yang belum mendapatkan pekerjaan maupun mereka yang tinggal di wilayah terpencil tidak terabaikan.

Menurut Leonardus, alumni YPMAK tidak boleh hanya menjadi kelompok yang menyampaikan berbagai persoalan, tetapi harus mampu menghadirkan gagasan dan solusi konkret bagi pemerintah daerah, YPMAK, serta masyarakat.

“Kalau bukan kita yang menjadi bagian dari solusi, lalu siapa lagi? Saya berharap para alumni hadir dengan pemikiran positif dan menjadi problem solver, yaitu orang-orang yang mampu mencari jalan keluar dan menyelesaikan persoalan,” tegasnya.

Selain persoalan ketenagakerjaan, Leonardus juga mendorong alumni untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal, seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Ia menilai kekayaan alam yang dimiliki Papua harus dikelola secara bijaksana melalui kerja nyata, bukan sekadar menjadi kebanggaan. Masyarakat perlu mulai mengembangkan potensi yang tersedia di sekitarnya agar mampu menghasilkan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Bupati Mimika yang diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Fransiskus Bokeyau, menyampaikan bahwa pendidikan merupakan investasi penting dalam membangun kualitas manusia dan mendorong kemajuan daerah.

Namun, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kelulusan atau gelar akademik. Ilmu pengetahuan, keterampilan, karakter, dan pengalaman yang diperoleh harus mampu diterapkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, alumni penerima beasiswa diharapkan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja, mengembangkan usaha, menghadirkan inovasi, dan mengambil peran dalam pembangunan daerah.

Fransiskus menjelaskan bahwa dunia kerja saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perkembangan teknologi, persaingan kompetensi, hingga perubahan kebutuhan dunia usaha dan industri. Kondisi tersebut menuntut para alumni untuk terus meningkatkan keterampilan, kedisiplinan, integritas, serta kemampuan beradaptasi.

Menurutnya, penyelesaian persoalan ketenagakerjaan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha dan industri, lembaga pendidikan, YPMAK, PT Freeport Indonesia, serta organisasi alumni.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas akses informasi lowongan kerja, menghadirkan pelatihan sesuai kebutuhan industri, memperkuat kewirausahaan, dan memberikan pendampingan kepada generasi muda agar lebih siap memasuki dunia kerja.

Ia juga berharap workshop tersebut menghasilkan rekomendasi yang konkret, terukur, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran PAPEDA–YPMAK sebagai jembatan antara dunia pendidikan, dunia kerja, dunia usaha, dan kebutuhan pembangunan daerah.

“Putra-putri asli Papua tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan di tanahnya sendiri, tetapi tampil sebagai pelaku utama yang memiliki kompetensi, daya saing, dan kemampuan untuk berkontribusi dalam berbagai bidang pekerjaan dan usaha,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan Bupati Mimika.

Melalui workshop tersebut, seluruh pihak diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas SDM, memperluas kesempatan kerja, mengembangkan potensi ekonomi lokal, dan mendorong alumni YPMAK menjadi bagian dari solusi bagi kesejahteraan masyarakat Mimika.

NUEL