Tekankan Toleransi, Gubernur Minta FKUB Perkuat Deteksi Dini Konflik di PBD

Gub Elkam Minta FKUB Perkuat Deteksi Dini Konflik di PBD
Badan Kesbangpol PBD menggelar Fasilitasi FKUB di Hotel Aimas, Kabupaten Sorong, Jumat (30/10/2026) / Foto: KENN

Koreri.com, Aimas –  Gubernur Elisa Kambu menegaskan pentingnya memperkuat moderasi beragama, toleransi, dan dialog lintas agama untuk menjaga persatuan serta mencegah potensi konflik sosial di tengah keberagaman Masyarakat Papua Barat Daya (PBD).

Menurutnya, keberagaman agama, suku, budaya, adat istiadat, dan tradisi di PBD merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama sebagai fondasi membangun daerah yang damai, harmonis, dan sejahtera.

Pesan itu disampaikan Gubernur dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kaban Kesbangpol), Drs. George Japsenang, M.Si pada kegiatan Fasilitasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) PBD di Hotel Aimas, Kabupaten Sorong, Jumat (30/10/2026).

Kegiatan yang melibatkan para tokoh agama ini mengusung tema “Memperkuat Moderasi Beragama untuk Mewujudkan Kerukunan, Toleransi, dan Persatuan di Provinsi Papua Barat Daya”.

Elisa menekankan bahwa kerukunan tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi harus dibangun melalui sikap saling menghormati, keterbukaan berdialog, kesediaan mendengarkan, serta komitmen untuk hidup berdampingan secara damai.

“Perbedaan agama bukanlah alasan untuk memecah belah persaudaraan. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi dasar untuk saling mengenal, saling menghargai, dan memperkuat persatuan sebagai sesama anak bangsa,” ucapnya.

Lanjut Elisa, moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama yang dianut. Sebaliknya, moderasi menekankan sikap adil, seimbang, menghargai perbedaan, menolak kekerasan, dan menghormati hak setiap warga negara dalam menjalankan ajaran agamanya.

Karena itu, ia mendorong FKUB agar semakin aktif menjadi ruang dialog dan komunikasi antarumat beragama, tempat para tokoh agama bertukar pikiran, menyampaikan aspirasi, membangun kesepahaman, serta mencari solusi atas persoalan yang berpotensi mengganggu kerukunan masyarakat.

Selain memperkuat peran FKUB, pemerintah juga menekankan pentingnya penerapan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga, rumah ibadah, sekolah, tempat kerja, hingga kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, nilai-nilai toleransi tidak boleh berhenti sebagai slogan atau sebatas kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

Dalam sambutannya, Elisa juga menyoroti pentingnya deteksi dini dan pencegahan potensi konflik sosial keagamaan.

Ia mendorong tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun komunikasi yang baik serta menyelesaikan setiap persoalan melalui dialog, musyawarah, dan pendekatan yang mengutamakan kedamaian.

Generasi muda juga dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga kerukunan dan persatuan di tengah keberagaman.

Karena itu, pemahaman mengenai toleransi, tanggung jawab sosial, serta etika bermedia sosial perlu terus diperkuat agar generasi muda tidak mudah terpengaruh isu-isu yang dapat memicu kesalahpahaman dan perpecahan.

Elisa menegaskan, upaya menjaga kerukunan tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Dibutuhkan sinergi berkelanjutan antara pemerintah, FKUB, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat agar setiap persoalan dapat ditangani secara tepat dan adil.

Lebih lanjut, Elisa berharap kegiatan fasilitasi FKUB menghasilkan rumusan rencana kerja yang konkret, terarah, dan dapat dilaksanakan.

Rencana kerja tersebut diharapkan mencakup penguatan dialog antarumat beragama, sosialisasi moderasi beragama, pendidikan toleransi bagi generasi muda, komunikasi lintas agama, serta langkah pencegahan terhadap isu-isu yang berpotensi menimbulkan konflik.

Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan kesepakatan dalam forum, tetapi juga melahirkan program berkelanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di seluruh wilayah Papua Barat Daya.

Ia pun mengajak seluruh peserta memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan gagasan secara terbuka, menghormati perbedaan pandangan, dan mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan.

Elisa berharap komitmen memperkuat moderasi beragama semakin nyata sehingga masyarakat Papua Barat Daya dapat terus hidup berdampingan secara damai di tengah keberagaman.

Semangat persaudaraan, kebersamaan, dan gotong royong harus terus dipelihara sebagai modal penting untuk membangun Papua Barat Daya yang damai, maju, dan sejahtera.

KENN