Terdeteksi di Merauke, Jubir: Varian Delta 7 Kali Lebih Ganas Menginfeksi

WhatsApp Image 2021 07 20 at 19.20.46
Pasien positif covid-19 yang sedang rawat di IGD RSUD Dok II Jayapura / Foto: Humas Polda Papua

Koreri.com, Jayapura – Juru bicara satgas penanganan covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan 12 sampel yang dikirim Rumah Sakit  Merauke ke litbangkes ditemukan 10 sampel positif varian delta covid-19.

“Ya, tadi malam sudah dapat konfirmasi dari litbagkes bahwa dari 12 sampel yang periksa 10 dinyatakan positif varian delta covid-19,” kata Juru bicara Satgas Covid-19, dr. Silwanus Sumule kepada wartawan di Mapolda Papua, Selasa (20/7/2021).

Ditegaskan, telur sudah pecah varian delta sudah masuk Papua dan masyarakat diminta tetap ikut prokes ketat dari Pemerintah daerah karena data menunjukan varian delta ini 7 kali lebih ganas dan menginfeksi 7 kali.

“Teman – teman di Rumah Sakit harus mempersiapkan diri dengan baik. Prokes ini menunjukan bahwa masyarakat sebagai garda terdepan yang ada di hulu harus berperan aktif,” kata Jubir.

Dengan demikian upaya kolaboratif bersama baik yang di hulu (masyarakat) maupun hilir (nakes) dalam menangani kasus covid-19 yang masuk rumah bisa dilakukan secara simultan.

“Kami minta kepada Polda bahwa penegakkan hukum terhadap pelanggar prokes karena bukan barang main-main lagi,” ujarnya.

Dijelaskan, saat ini pihaknya masih memeriksa beberapa sampel yang dikirim dari kabupaten Mimika dan kota Jayapura.

“Hingga saat ini data yang sudah keluar barul dari kabupaten merauke, sementara untuk daerah lain seperti Kota Jayapura dan Timika data belum keluar karena membutuhkan waktu 2 minggu,” katanya.

Menurut Sumule, varian delta sudah di Papua lama namun baru terdeteksi di litbangkes.

“Saya mau sampaikan bahwa virus ini di bawa oleh manusia, selama belum ada penutupan bandara atau pelabuhan maka masih memungkinkan varian delta ini sudah menyebar ke daerah lain, namun kami berharap tidak demikian,” kata Silwanus.

Saat ini Litbangkes Papua sudah bisa memeriksa sampel untuk varian Delta, namun tidak semua sampel bisa diperiksa, pasalnya Litbangkes hanya memiliki satu komputer super untuk memeriksa sampel varian delta.

“Hanya sampel pasien yang dicurigai ada varian delta itu saja yang akan dikirim, yakni dengan indikasi sampel itu memiliki CT yang rendah sekali atau gambaran kliniknya memang jelek,” katanya.

Sumule juga mengaku membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk memeriksa sampel varian delta dengan metode Scansic genonic dan memakai super komputer.

“Saat ini masyarakat harus betul-betul perketat prokes dan diperlukan kolaborasi antara masyarakat dan satgas covid, agar kita bisa sama-sama kalahkan virus corona di Papua,” pungkasnya.

OZIE