Kepala SD Inpres 27 Ambon Kecewa, Berita Klarifikasi Dana BOS Dimuat Tak Utuh

Marice Sahanaya Kepala SD Inpres 27 Bentas
Kepala SD Inpres 27 Benteng Atas Ambon Marice Sahanaya, S. Pd.SD / Foto : Buken

Koreri.com, Ambon – Kepala SD Inpres 27 Bentas Ambon, Marice Sahanaya, S.Pd.SD menyayangkan sikap seorang oknum wartawan dari media lokal setempat yang dinilainya tidak kooperatif saat dimintai klarifikasi terkait pemberitaan soal Dana BOS dipakai bayar tukang revitalisasi.

Hal itu menyusul oknum wartawan berinisial TB yang tidak memuat utuh pernyataan klarifikasi pihaknya dalam pemberitaan media yang bersangkutan.

Kekecewaan itu disampaikan Marice setelah berupaya meminta penjelasan mengenai pemberitaan yang dianggapnya merugikan pihak sekolah.

Ia mengaku telah menghubungi oknum wartawan yang bersangkutan untuk mempertanyakan klarifikasi dan ingin mengetahui tindak lanjut pemberitaan dimaksud.

“Berita ini terus naik di media sosial dan Metro Maluku. Saya menghubungi Pak TB untuk datang dan mempertanyakan klarifikasi saya yang tidak utuh dimuat pada berita yang sudah diterbitkan ,” sesal Marice kepada media Koreri.com, Sabtu (24/10/2026).

Namun, ia mengaku upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena tidak mendapatkan penjelasan yang diharapkan.

Malah oknum wartawan tersebut meninggalkan ruangan sebelum persoalan dibahas lebih lanjut.

“Saya tanya kepada yang bersangkutan, tetapi tidak dilayani. Beliau malah langsung keluar meninggalkan kami yang masih berada di dalam ruangan. Ada beberapa wartawan yang turut menyaksikan kejadian itu,” bebernya.

Marice menyayangkan sikap tersebut karena momen pertemuan itu diharapkan menjadi ruang untuk mengklarifikasi informasi sekaligus meluruskan pemberitaan yang terus beredar di media sosial.

Ia menegaskan, pihak sekolah berkepentingan memperoleh penjelasan atas informasi yang menyangkut institusinya, terutama jika pemberitaan tersebut dinilai merugikan.

“Ini hak saya untuk menanyakan klarifikasi berita saya itu di mana? Termasuk tindak lanjut dari pemberitaan yang terus beredar di media sosial,” tegasnya.

Menurut Marice, pertemuan yang dihadiri sejumlah rekan awak media yang telah diundangnya justru berakhir tanpa penyelesaian.

Ia pun menilai sikap oknum wartawan tersebut mengecewakan dan tidak mencerminkan komunikasi yang diharapkannya dalam menyelesaikan persoalan pemberitaan.

Persoalan ini menegaskan pentingnya ruang klarifikasi dan keberimbangan informasi dalam kerja jurnalistik, agar pihak yang diberitakan memperoleh kesempatan menyampaikan penjelasan sesuai prinsip-prinsip pers.

BKL