Belum Optimal hanya 120 Koperasi yang Dinilai Sehat

Semuel Yogi Apresiasi Bupati JR Wabup EK
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Mimika Samuel Yogi / Foto: EHO

Koreri.com, Timika – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UMKM) Kabupaten Mimika menyoroti kondisi ratusan koperasi yang tercatat di wilayah tersebut.

Dari sekitar 754 koperasi, baru sekitar 120-an koperasi yang dinilai sehat dan benar-benar menjalankan aktivitas usahanya.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika, Samuel Yogi, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena keberadaan koperasi tidak boleh hanya sebatas nama dan administrasi, tetapi harus mampu menjalankan kegiatan usaha serta memberikan manfaat bagi anggota.

Hal itu disampaikan Samuel saat diwawancarai di Hotel Horison Ultima, Timika, Rabu (23/9/2026).

Menurutnya, dari ratusan koperasi yang ada, sebagian masih belum berjalan secara optimal.

Bahkan, jumlah koperasi yang tidak aktif atau belum berkembang masih mencapai ratusan.

“Secara umum ada sekitar 754 koperasi yang ada di Kabupaten Mimika. Koperasi yang sehat dan sudah berjalan sekitar 120 sekian, sementara yang tidak berjalan sekitar 300 sekian,” ujar Samuel.

Kondisi tersebut semakin menjadi tantangan karena pemerintah juga harus membina keberadaan Koperasi Merah Putih yang kini ikut menambah jumlah koperasi di Mimika.

Samuel menegaskan, koperasi di Mimika memiliki tingkat perkembangan yang berbeda-beda.

Ada koperasi yang mampu mengembangkan usaha dengan omzet miliaran hingga puluhan miliar rupiah, namun ada pula koperasi yang belum mampu bergerak secara maksimal.

Ia mencontohkan Koperasi Maria Bintang Laut yang menjadi salah satu koperasi binaan Dinas Koperasi dan UMKM. Dalam periode tiga bulan, koperasi tersebut disebut mampu mencapai omzet hingga sekitar Rp10 miliar.

“Maria Bintang Laut, dalam tiga bulan sekali itu mereka bisa sampai Rp10 miliar. Ini salah satu binaan dari Diskop,” jelasnya.

Selain itu, Samuel menyebut model koperasi utama dari PT KPI mampu mencatat omzet sekitar Rp23 hingga Rp24 miliar. Ia juga menyinggung koperasi lainnya, termasuk CO Karitas, yang menurutnya telah memiliki omzet tinggi.

Ada pula koperasi di kawasan Limba-Limba Hotel yang disebut mampu mencatat omzet sekitar Rp7–8 miliar.

Menurut Samuel, capaian tersebut menunjukkan bahwa koperasi sebenarnya dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara serius, profesional, dan memiliki model usaha yang jelas.

Karena itu, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika tidak ingin koperasi yang sudah berhasil hanya berhenti sebagai contoh, tetapi dapat menjadi mentor bagi koperasi lainnya yang masih tertinggal.

“Kami berharap ke depan mereka bisa menjadi guru atau narasumber untuk koperasi-koperasi yang belum maju. Mereka bisa melatih dan membimbing koperasi yang belum berkembang,” katanya.

Samuel menilai, pembangunan koperasi di Mimika tidak bisa dilakukan hanya dengan pendekatan administratif. Pemerintah harus melihat koperasi secara menyeluruh, mulai dari kemampuan pengurus mengelola usaha, partisipasi anggota, hingga kemampuan menciptakan omzet dan keberlanjutan usaha.

“Kita bicara konteksnya umum di Mimika. Bukan hanya bicara ini dan ini. Kita semua orang Mimika. Ada yang sudah lima tahun, sepuluh tahun, bahkan tiga puluh tahun tinggal dan berkarya di Mimika,” pungkasnya.

Dengan jumlah koperasi yang mencapai ratusan, tantangan terbesar pemerintah kini bukan sekadar menambah jumlah koperasi, melainkan memastikan koperasi yang telah berdiri benar-benar hidup, sehat, produktif, dan memberikan manfaat ekonomi bagi anggotanya.

NUEL