Poktan Nematovonbeel: “Mari Kita Coba” Ubah Seget Menuju Swadaya Pangan

Kampung Seget Poktan Nematovonbeel utama
Mama Oktavina Onamo (kanan) bersama puluhan warga lainnya terlibat aktif dalam Kelompok Tani Nematovonbeel, inisiasi Pertamina Patra Niaga melalui Refinery Unit (RU) VII Kasim di Kampung Seget, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya . Foto : Suzan

Koreri.com, Sorong – PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Kasim menggelar giat Media Visit dengan melibatkan sejumlah jurnalis di Kampung Seget, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Senin (31/8/2026).

Suzan Leiwakabessy dari Koreri.com menjadi salah satu jurnalis yang mendapat kesempatan untuk terlibat dalam kunjungan selama sehari itu.

Mengawali dari titik kumpul di Mess Pertamina yang berlokasi di Jalan Basuki Rahmat Km 9.5 Kota Sorong, rombongan memulai perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat sekitar pukul 08.10 Wit setelah terlebih dahulu dilakukan tahapan pemeriksaan atau medical check-up kepada seluruh peserta.

Dibutuhkan waktu tempuh kurang lebih dua jam setengah hingga tiba di Kampung Seget.

Kampung Seget Poktan Nematovonbeel
Sentra Budidaya Pertanian Produktif & Terpadu Kelompok Tani Nematovonbeel merupakan bagian dari TJSL Pertamina di Kampung Seget, Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya yang diwujudkan melalui Program Seget Prima untuk mendukung swasembada pangan nasional / Foto : Suzan

Di sela-sela perjalanan, rombongan disuguhi dengan pemandangan alam yang indah dihiasi pepohonan dan tanaman hijau.

Dan tentunya cukup menyegarkan mata dan pikiran yang beberapa saat sebelumnya dipadati dengan rutinitas kerja.

Tepat di ujung perjalanan itu, mempertemukan Koreri.com dengan mama Oktavina Onamo.

Ia adalah salah seorang warga kampung Seget yang meski sudah memasuki usia paruh baya namun masih memiliki semangat hidup yang sangat tinggi.

Mama Oktavina Onamo termasuk warga kampung Seget yang mendapatkan kesempatan bergabung dalam Sentra Budidaya Pertanian Produktif & Terpadu Kelompok Tani Nematovonbeel.

Salah Seorang Anggota Poktan Nematovonbeel Sementara Melakukan Aktivitas Penanaman Bibit /Foto: Suzan
Salah Seorang Anggota Poktan Nematovonbeel Sementara Melakukan Aktivitas Penanaman Bibit /Foto: Suzan

Ia mengaku bangga dan senang karena berkesempatan menjadi bagian dari Kelompok Tani (Poktan) Nematovonbeel dan telah merasakan manfaat nyata hingga dampak positif bagi dirinya maupun keluarga.

Wanita yang sehari-harinya juga beraktivitas sebagai petani ini mendapatkan pula bantuan benih dan bibit bayam, kangkung, tomat, kacang panjang, cabai hingga jagung serta bibit lainnya.

“Jadi selain untuk mama makan bersama keluarga sehari-hari, nanti hasil kebun ini juga mama bawa ke Kota Sorong untuk dijual. Satu ikat sayur kangkung atau bayam harganya 10ribu. Kalau untung bisa dapat 100 atau 200 ibu ribu anak (kru Koreri, red),” cerita Mama Oktavina.

Poktan Nematovonbeel sendiri memiliki anggota sekitar 22 orang dengan ketuanya bernama Mama Yumima Ubey.

Mama Yumima Ubey ini sukses mengajak dan mengajar masyarakat Kampung Seget, Distrik Seget untuk mengubah lahan kosong di sekitar tempat tinggal mereka menjadi bernilai.

Lokasi Pembibitan / Foto : Suzan
Rumah Persemaian Bibit / Foto : Suzan

Masyarakat kemudian mengikuti ajakan mama Yumima Ubey dengan menjadikan lahan kosong milik mereka bisa memberikan hasil nyata dan sangat berguna bagi kelangsungan hidup mereka.

Sebelumnya, warga yang tergabung dalam Poktan Nematovonbeel ini diberikan pelatihan dari PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) VII Kasim pada April 2026 lalu.

Dan tindaklanjutnya, pada Juli 2026, warga bergotong royong membersihkan lahan milik mereka hingga kemudian memberikan hasil yang bermanfaat bagi perekonomian keluarga masing-masing.

“Pertama itu ada lahan kosong yang penuh rumput-rumput tinggi milik Polsek lalu kita minta untuk bikin kebun. Orang Polsek bilang boleh dipakai daripada ada rumput, terus sudah kita bersihkan,”kata mama Ubey.

Sebelumnya masyarakat ikut dalam Poktan Nematovonbeel, mereka memiliki pekerjaan sebagai petani atau nelayan

Salah Seorang Anggota Poktan Nematovonbeel sedang Menyirami Bibit yang Baru ditanam/Foto: Suzan
Salah seorang anggota Poktan Nematovonbeel sedang menyirami bibit yang baru ditanam / Foto: Suzan

Melalui Sentra Budidaya Pertanian Produktif & Terpadu, Poktan Nematovonbeel telah menjelma menjadi wadah bagi masyarakat Kampung Seget untuk berjuang melakukan perubahan pola hidup yang lebih baik.

Poktan Nematovonbeel sendiri terbagi atas dua kelompok dengan anggota 11 orang di masing-masing kelompok.

Kata Nematovonbeel berasal dari bahasa Suku Moi yang memiliki arti “Mari Kita Coba”.

Filosofi kata tersebut menggambarkan semangat kebersamaan, keberanian, dan tekad warga Kampung Seget untuk mencoba hal baru dalam mengolah lahan pertanian mandiri.

Kepala Kampung Seget Orgenes Kumuay menyampaikan ungkapan terima kasih kepada Pertamina Kilang Kasim yang telah membantu warganya melalui pelatihan dan pemberian bantuan berupa bibit bagi Poktan Nematovonbeel.

Lahan Kosong Sebelum Ditanami Bibit-bibit Sayur /Foto : Suzan
Lahan kosong yang kini ditanami bibit-bibit sayur / Foto : Suzan

“Saya atas nama masyarakat Kampung Seget berterima kasih kepada Kilang Kasim karena sudah kasih bantuan untuk kami berkebun dan mengembangkan usaha pertanian,” katanya.

Kampung Seget sendiri dihuni 85 Kepala Keluarga dengan jumlah warga sebanyak 289 jiwa.

Junior Officer Communication, Relation & CSR PT Pertamina Patra Niaga Unit Kasim Bambang Imawan dalam keterangannya menjelaskan bahwa Sentra Budidaya Pertanian Produktif & Terpadu Kelompok Tani Nematovonbeel merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina yang diwujudkan melalui Program Seget Prima untuk mendukung swasembada pangan nasional.

Melalui Sentra Budidaya Pertanian Produktif & Terpadu Kelompok Tani Nematovonbeel, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Kasim mengajak masyarakat di Kampung Seget untuk meningkatkan kemampuan bertani secara efisien dan efektif.

“Kita telah memberikan pelatihan melalui forum group discussion (FGD, red) sejak bulan Januari lalu dan disambut antusias warga yang memang sudah familiar dengan Bertani,” terangnya.

Mama Oktavina Onamo dengan Sukacita Memperlihatkan Hasil Kebun yang Baru Dipanen berupa Sayur Bayam/Foto: Suzan
Mama Oktavina Onamo dengan sukacita memperlihatkan hasil kebun yang baru dipanen berupa sayur bayam/Foto: Suzan

Selanjutnya, mulai dilakukan persiapan lahan melalui pembersihan dan pembuatan bedeng-bedeng sekitar Juli hingga Agustus 2026. Kemudian dibentuk lahan pertanian dengan ukuran 100 × 50 meter dilanjutkan dengan pembibitan.

“Untuk hasilnya sudah dapat dimanfaatkan langsung oleh warga. Namun jika ada kelebihan, kita akan lihat dengan memberikan solusi bisa dijual ke Kota Sorong atau dapat ditawarkan ke Perusahaan. Karena di perusahaan juga ada penyedia makanan, kan makanan kita ada di sana,” sambung Bambang.

Pihaknya juga telah mempertimbangkan untuk program jangka panjang.

Karena jika hasilnya banyak, maka tidak menutup kemungkinan juga akan dibentuk koperasi untuk penyaluran hasil kelompok tani bagi warga lain yang tinggal di sekitar Kampung Seget.

“Kita berencana menjadikan Distrik Seget ini semacam Kampung Swadaya Pangan yang akan mendukung swasembada pangan nasional,” pungkas Bambang menutup pernyataannya.

ZAN