Dinsos P3A PBD Gelar Pelatihan-Pembentukan PUSPAGA, Libatkan 40 Peserta

DINSOS P3A PBD Pelatihan PUSPAGA2
Dinas P3A PBD bekerja sama dengan UNICEF menggelar Pelatihan dan Pembentukan PUSPAGA bertempat di Rylich Panorama Hotel, Kota Sorong, Selasa (11/8/2026). Giat dijadwalkan berlangsung selama dua hari, 11–12 Agustus 2026 / Foto : Suzan

Koreri.com, Sorong – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Provinsi Papua Barat Daya bekerja sama dengan UNICEF menggelar Pelatihan dan Pembentukan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) bertempat di Rylich Panorama Hotel, Kota Sorong, Selasa (11/8/2026).

Giat yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari, 11–12 Agustus 2026 ini melibatkan sebanyak 40 peserta yang dipersiapkan untuk mendukung pengelolaan layanan PUSPAGA di PBD.

Kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat kemampuan tenaga yang nantinya akan memberikan layanan kepada keluarga dan masyarakat.

Kepala Dinsos P3A PBD Dr. Anace Nauw, SH, MH, melalui Ketua Pelaksana Kegiatan sekaligus Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Karolina Susim, S.Sos., mengatakan persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi masalah serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan bersama.

“Permasalahan keluarga yang timbul bagaikan fenomena gunung es. Permasalahan yang kita ketahui hanya sebagian kecil dari puluhan ribu permasalahan yang ada,” kata Karolina.

Ia menjelaskan, persoalan keluarga tidak hanya menimbulkan kerugian secara material, tetapi juga dapat berdampak terhadap kondisi mental anak, orang tua, maupun anggota keluarga lainnya.

Salah satu persoalan yang masih ditemukan adalah praktik pengasuhan anak yang tidak layak di sejumlah daerah.

Padahal, orang tua atau pengasuh memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik, melindungi, serta mendukung tumbuh kembang anak sesuai bakat dan minatnya.

Selain itu, orang tua juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak sebagai bekal dalam menjalani kehidupan ketika dewasa.

Karolina mengatakan anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan masih menjadi korban berbagai bentuk kekerasan, mulai dari penelantaran, kekerasan psikis, kekerasan seksual hingga kekerasan fisik.

Karolina Susim DInsos P3A PBD
Ketua Pelaksana Kegiatan sekaligus Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Karolina Susim, S.Sos saat menyampaikan laporan / Foto : Suzan

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) tahun 2025, tercatat sebanyak 142 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Papua Barat Daya yang telah dilaporkan dan ditangani.

Namun, angka tersebut diyakini belum menggambarkan keseluruhan kondisi di lapangan. 

Masih terdapat kemungkinan banyak kasus yang tidak dilaporkan kepada unit layanan perlindungan perempuan dan anak.

“Angka ini tentu jauh lebih kecil dari kondisi riil yang terjadi di lapangan. Tidak semua kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terlaporkan pada unit layanan,” ujarnya.

Menurutnya, tingginya kasus kekerasan terhadap anak, termasuk kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa yang seharusnya menjadi pelindung, menunjukkan masih perlunya penguatan pola pengasuhan di dalam keluarga.

Karolina menegaskan keluarga merupakan lingkungan pertama sekaligus utama dalam proses tumbuh kembang anak.

Dari lingkungan keluarga, anak belajar membangun karakter, memperoleh rasa aman, mendapatkan pendidikan, serta mengembangkan kemampuan sosial dan emosional.

Karena itu, penguatan kapasitas keluarga menjadi salah satu strategi penting dalam mewujudkan keluarga yang berkualitas, harmonis, sekaligus mampu memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak.

Dalam konteks tersebut, PUSPAGA diharapkan dapat menjadi salah satu sarana edukasi, konsultasi, informasi, dan layanan bagi keluarga untuk mencegah munculnya berbagai persoalan yang dapat mengancam ketahanan keluarga.

Melalui pelatihan dan pembentukan PUSPAGA ini, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menargetkan terbentuknya layanan yang mampu memberikan pendekatan promotif dan preventif kepada masyarakat.

Layanan tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada penanganan ketika persoalan telah terjadi, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi dan peningkatan kapasitas keluarga.

Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang nantinya mengelola layanan PUSPAGA secara terpadu di Papua Barat Daya.

Dengan penguatan kapasitas keluarga dan tersedianya layanan PUSPAGA, pemerintah berharap masyarakat semakin memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam membangun pola pengasuhan yang baik, mencegah kekerasan, serta menciptakan lingkungan keluarga yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian penting dalam membangun keluarga yang berkualitas dan menciptakan generasi Papua Barat Daya yang tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, harmonis, dan terlindungi.

ZAN