Koreri.com, Timika – Warga masyarakat yang bermukim di sepanjang kawasan Jalan Trans Nabire menyampaikan aspirasinya ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika.
Aspirasi terkait berbagai persoalan yang dihadapi tersebut disampaikan Kepala Distrik Persiapan Mimika Utara, Jerry Diwitau, saat membacakan laporan dalam acara peresmian Kantor Lembaga Masyarakat Suku Muni Selatan (LEMASMOS) sekaligus peletakan batu pertama pembangunan Koperasi LEMASMOS di Jalan Trans Nabire, Sabtu (26/9/2026).
Dalam laporannya dihadapan Wakil Bupati Emanuel Kemong, Jerry menegaskan masyarakat di sepanjang kawasan itu masih membutuhkan perhatian serius pemerintah, terutama dalam bidang pemerintahan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi.
Ia juga meminta adanya kepastian terkait penggunaan nama dan wilayah administrasi Distrik Mimika Utara maupun Mimika Gunung.
Jerry mengaku hingga saat ini dirinya belum menerima Surat Keputusan (SK) pelantikan.
“Walaupun belum ada SK pelantikan, kami memohon agar kami bisa menggunakan nama Distrik Mimika Gunung dan Mimika Utara,” ujar Jerry.
Menurutnya, laporan yang disampaikan merupakan rangkuman rencana pembangunan, usulan program kerja prioritas, kebutuhan masyarakat serta rekomendasi strategis dari kampung-kampung yang berada di kawasan tersebut.
Ia berharap berbagai usulan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan Pemkab Mimika dalam penyusunan program pembangunan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kabupaten.
Salah satu kebutuhan mendesak yang disampaikan Jerry adalah pelayanan kesehatan.
Ia menyebut masyarakat di sepanjang Jalan Trans Nabire membutuhkan sedikitnya tiga fasilitas pelayanan kesehatan yang dibangun pada titik-titik utama.
Menurutnya, jarak permukiman dengan pusat pelayanan kesehatan menjadi salah satu kendala utama masyarakat, terlebih ketika menghadapi kondisi darurat.
“Banyak masyarakat yang terlambat ditolong karena jaraknya jauh. Transportasi juga terbatas. Kalau mau bawa ke Karitas dan RSUD, kadang-kadang kita sulit,” katanya.
Karena itu, Jerry meminta pemerintah mempertimbangkan penyediaan pelayanan kesehatan darurat atau emergensi yang dapat menjangkau masyarakat dalam waktu singkat.
“Pelayanan kesehatan bersifat emergensi perlu dilakukan dalam jangka waktu yang singkat,” ujarnya.
Di bidang pendidikan, Jerry mengusulkan pembangunan sedikitnya empat sekolah dasar (SD) pada empat titik berbeda di sepanjang kawasan Jalan Trans Nabire.
Ia mengatakan masih terdapat persoalan pelayanan pendidikan di sejumlah kampung, termasuk adanya sekolah yang belum berjalan sebagaimana mestinya.
“Kami juga usulkan empat sekolah dasar di empat titik yang berbeda sepanjang jalan,” katanya.
Jerry berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan pendidikan anak-anak di kawasan tersebut agar mereka tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pendidikan dasar.
Jerry juga menyampaikan kebutuhan terhadap fasilitas pemerintahan yang layak.
Ia mengaku aktivitas pemerintahan distrik selama ini masih dilakukan dengan menumpang, sehingga kondisi tersebut dinilai belum ideal untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Saya minta kepada pemerintah agar kami diberikan tempat yang lebih layak,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan fasilitas pemerintahan yang memadai akan mendukung pelayanan administrasi dan pemerintahan kepada masyarakat di kawasan Trans Nabire.
Ia mengatakan kesempatan masyarakat setempat untuk memperoleh pekerjaan masih sangat terbatas.
Sebagian masyarakat hanya bekerja di perkebunan kelapa sawit maupun terlibat dalam sejumlah proyek pembangunan yang berlangsung di kawasan tersebut.
Karena itu, ia meminta setiap proyek pembangunan yang masuk ke wilayah tersebut memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat lokal.
“Kami minta semua proyek yang lewat ini melibatkan masyarakat setempat, sehingga mereka bisa meningkatkan ekonomi keluarga,” tegasnya.
Jerry menilai keterlibatan masyarakat lokal dalam proyek pembangunan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan, kemampuan dan kemandirian.
Selain pembangunan, Jerry turut menyoroti kondisi sosial masyarakat yang hidup berdampingan dari berbagai latar belakang suku.
Ia menyebut kawasan tersebut dihuni masyarakat dari Suku Amungme, Moni, Kamoro, Dani, Damal serta kelompok kekerabatan lainnya.
Menurutnya, keberagaman tersebut harus dijaga bersama agar kawasan Trans Nabire tetap aman dan tidak menjadi ruang konflik.
“Kami mau hidup damai seperti orang-orang tua kita yang dulu,” katanya.
Jerry juga meminta pemerintah memperkuat pengawasan terhadap kawasan hutan dan lahan yang masih luas.
Menurutnya, masyarakat setempat masih sangat bergantung pada hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Kami tidak mau ada pihak lain yang menempati dan mengacaukan keadaan masyarakat. Kami di sini tergantung pada hutan ini. Masyarakat di sini 100 persen hidup bergantung dengan hutan ini,” ujarnya.
Ia menegaskan kawasan tersebut harus dijaga sebagai ruang hidup bersama dan tidak boleh dijadikan tempat munculnya konflik.
“Saya mau tegaskan lagi, di sini tidak boleh dijadikan lahan konflik. Silakan konflik terjadi di mana-mana, tetapi di sini tidak boleh,” tegas Jerry.
Jerry berharap seluruh aspirasi tersebut mendapat perhatian Pemkab Mimika dan dapat diterjemahkan ke dalam program pembangunan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat di sepanjang kawasan Jalan Trans Nabire.
TIM












